-Bali-
Lambang
Motto: "Bali Dwipa Jaya"
(Bahasa Kawi: "Pulau Bali Jaya")
Peta Lokasi Bali
Negara: Indonesia
Hari Jadi: 14 Agustus 1959
Ibu Kota: Denpasar (dahulu Singaraja)
Koordinat: 9º 0' - 7º 50' LS , 114º 0' - 116º 0' BT
Gubernur: Komjen Pol (Purn) I Made Mangku Pastika (2008-2013)
Luas Total: 5.634 km2
Populasi (2010):
- Total: 3.891.428
- Kepadatan: 690,7/km²
Demografi:
- Suku Bangsa: Bali (89%), Jawa (7%), Baliaga (1%), Madura (1%)
- Agama: Hindu (92,3%), Islam (5,7%), Lainnya (2%)
- Bahasa: Bahasa Bali, Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, Bahasa Sasak, Bahasa Madura
Zona Waktu: WITA
Kabupaten: 8
Kota: 1
Lagu Daerah: Bali Jagaddhita
Situs Web: www.baliprov.go.id
Bali adalah nama salah satu provinsi di Indonesia dan juga merupakan nama pulau terbesar yang menjadi bagian dari provinsi tersebut. Selain terdiri dari Pulau Bali, wilayah Provinsi Bali juga terdiri dari pulau-pulau yang lebih kecil di sekitarnya, yaitu Pulau Nusa Penida, Pulau Nusa Lembongan, Pulau Nusa Ceningan dan Pulau Serangan.
Bali terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Ibukota provinsinya ialah Denpasar yang terletak di bagian selatan pulau ini. Mayoritas penduduk Bali adalah pemeluk agama Hindu. Di dunia, Bali terkenal sebagai tujuan pariwisata dengan keunikan berbagai hasil seni-budayanya, khususnya bagi para wisatawan Jepang dan Australia. Bali juga dikenal dengan sebutan Pulau Dewata dan Pulau Seribu Pura.
Bali memiliki keanekaragaman daya tarik wisata yang mengagumkan. Tidak heran jika pulau yang indah ini sanggup menarik jutaan wisatawan baik asing maupun domestik setiap tahunnya. Hampir semua media internasional yang berhubungan dengan pariwisata dunia menempatkan Bali pada tempat teratas tujuan wisata tropis yang paling diminati.
Bali terkenal dengan daya tarik tradisi dan budayanya. Banyak wisatawan datang untuk mengunjungi berbagai pura dan menyaksikan tari-tarian yang masing-masing memiliki karakteristik dan keunikan tersendiri.
Namun, sebagai surga wisata tropis yang lengkap dengan pegunungan, lembah, ngarai, tanah pertanian, pantai, bahkan sampai panorama yang cantik didasar laut, Bali juga menawarkan banyak hal lain yang tidak kalah menarik. Bangunan pura, adat istiadat serta kebiasaan masyarakat Bali yang sangat kental dengan budayanya menjadikan Bali selalu hidup untuk Pariwisata Nasional.
Sejarah Pariwisata Bali
Perjalanan wisata internasional di Bali telah dimulai pada permulaan abad 20 dimana sebelumnya Bali ditemukan oleh orang Belanda tahun 1579 yaitu oleh ekspedisi Cornellis de Houtman dalam perjalanannya mengelilingi dunia untuk mencari rempah-rempah lalu sampai di Indonesia.
Dari Pulau Jawa misi tersebut berlayar menuju ke Timur dan dari kejauhan terlihatlah sebuah pulau yang merimbun. Dikiranya pulau tersebut menghasilkan rempah-rempah. Setelah mereka mendarat, mereka tidak menemukan rempah-rempah.
Hanya sebuah kehidupan dengan kebudayaannya yang menurut pandangan mereka sangat unik, tidak pernah dijumpai di tempat lain yang dikunjungi selama mereka mengelilingi dunia, alamnya sangat indah dan mempunyai daya tarik tersendiri. Pulau ini oleh penduduknya dinamakan Bali. Inilah yang mereka laporkan kepada Raja Belanda pada waktu itu.
Kemudian pada tahun 1920 mulailah wisatawan dari Eropa datang ke Bali. Hal ini terjadi berkat dari kapal-kapal dagang Belanda yaitu KPM (Koninklijke Paketcart Maatsckapy) yang dalam usahanya mencari rempah-rempah ke Indonesia dan juga agar kapal-kapal tersebut mendapat penumpang dalam perjalanannya ke Indonesia, lalu mereka memperkenalkan Bali di Eropa sebagai the Island of God.
Dari para wisatawan Eropa yang mengunjungi Bali terdapat pula para seniman, baik seniman sastra, seniman lukis maupun seniman tari. Dalam kunjungan berikutnya banyak para seniman tersebut yang menulis tentang Bali seperti:
Seniman Sastra:
- Dr. Gregor Krause adalah orang Jerman yang dikirim ke Wetherisnds East Idies (Indonesia) bertugas di Bali pada tahun 1921 yang ditugaskan untuk membuat tulisan-tulisan dan foto-foto mengenai tata kehidupan masyarakat Bali. Bukunya telah menyebar ke seluruh dunia pada tahun 1920.
- Miguel Covarrubias dengan bukunya the Island of Bali tahun 1930.
- Magaret Mead.
- Collin Mc Phee.
- Jone Bello.
- Mrs Menc (Ni Ketut Tantri) dengan bukunya Revolt In Paradise.
- Roelof Goris dengan bukunya Prasasti Bali, menetap di Bali tahun 1928.
- Lovis Conperus (1863-1923) dengan bukunya Easwords (Melawat ke Timur) memuji tentang Bali terutama Kintamani.
Seniman Lukis:
- R. Bonet, mendirikan museum Ratna Warta.
- Walter Spies bersama Tjokorde mendirikan Yayasan Pita Maha. Disamping dikenal sebagai pelukis ia juga mengarang buku dengan judul Dance and Drama in Bali. Pertama kali ke Bali tahun 1925.
- Arie Smith yang membentuk aliran young artist.
- Le Mayeur orang Belgia, mengambil istri di Bali, tinggal di Sanur tahun 1930 dengan Museum Le Mayeur di Bali
- Mario Blanco, orang Spanyol, juga seorang pelukis beristrikan orang Bali dan menetap di Ubud.
Dan banyak lagi seniman baik asing maupun Nusantara disamping menetap, mengambil objek baik lukisan maupun tulisan mengenai Bali. Dan tulisan-tulisan mengenai Bali mulai tahun 1920 sudah menyebar ke seluruh Eropa dan Amerika.
Para wisatawan asing yang sudah pernah ke Bali lalu menceritakan pengalaman kunjungannya selama di Bali kepada teman-temannya. Penyebaran informasi mengenai Bali baik karena tulisan-tulisan tentang Bali maupun cerita dari mulut ke mulut menyebabkan Bali dikenal di mancanegara. Bahkan sampai saat ini nama Bali masih lebih dikenal umum dibandingkan dengan nama Indonesia di mancanegara.
Untuk mengantisipasi hal tersebut maka penyebaran informasi mengenai daerah tujuan wisata (DTW) Bali selalu mengutamakan nama Indonesia, baik itu penyebaran informasi melalui brosur-brosur maupun pada pameran-pameran yang diadakan di negara asing. Sehingga dengan demikian diharapkan nama Indonesia lebih dikenal dan dipahami bahwa Bali adalah salah satu propinsi yang ada di Indonesia dan merupakan bagian dari Indonesia, bukan sebaliknya.
Untuk menampung kedatangan wisatawan asing ke Bali, maka pada tahun 1930 didirikanlah hotel yang pertama di Bali yaitu Bali Hotel yang terletak di jantung kota Denpasar, disamping itu juga ada sebuah pesanggrahan yang terletak di kawasan wisata Kintamani.
Pesanggrahan sangat strategis untuk dapat melihat pemandangan alam Kintamani yang unik dan mempunyai daya tarik tersendiri di mata wisatawan, bahkan pesanggrahan tersebut sangat strategis untuk menyaksikan saat Gunung Batur meletus maupun mengeluarkan asap.
Menurut kepercayaan masyarakat setempat, saat Gunung Batur meletus banyak roh-roh halus menyebar di sekitar Kintamani, karena itu masyarakat setempat membuat upacara agar ketentraman desa terpelihara.
Pada saat Gunung Batur meletus pada tahun 1994 yang lalu, kawasan Kintamani makin banyak dikunjungi wisatawan yang ingin menyaksikan atraksi kegiatan Gunung Batur. Dan masyarakat setempat pun kebagian rezeki dari kunjungan tersebut.
Nama Bali makin terkenal setelah pada tahun 1932 rombongan Legong Peliatan melanglang buana ke Eropa dan Amerika atas prakarsa orang-orang asing dan pada tahun berikutnya makin banyak saja seni tari Bali yang diajak melanglang buana ke mancanegara. Selama pementasan selalu pertunjukan tersebut mendapat acungan jempol.
Makin terkenalnya nama Bali di mancanegara, kunjungan wisatawan asing makin banyak datang ke Bali. Berbagai julukan diberikan kepada Bali antara lain:
- The Island of Gods
- The Island of Paradise
- The Island of Thousand Temples
- The Morning of The World oleh Pandit Jawahral Nehru
- The Last Paradise on Earth, dan lain sebagainya
Kesemarakan Pariwisata Bali pernah terhenti karena meletusnya Perang Dunia I tahun 1939-1941 dan Perang Dunia II tahun 1942-1945 dan dilanjutkan dengan Revolusi Kemerdekaan RI tahun 1942-1949.
Baru pada tahun 1956 kepariwisataan di Bali dirintis kembali. Pada tahun 1963 didirikan Hotel Bali Beach (Grand Bali Beach sekarang) dan diresmikan pada bulan November 1966. Hotel Bali Beach (Grand Bali Beach) mempunyai sejarah tersendiri dimana merupakan satu-satunya hotel berlantai 9 (sembilan) tingginya lebih dari 15 meter.
Hotel ini dibangun sebelum ada ketentuan bahwa bangunan di Bali maksimal tingginya 15 meter, sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur Kdh. Tk. I Bali tanggal 22 November 1971 Nomor 13/Perbang. 1614/II/a/1971. Isinya antara lain bahwa bangunan di daerah Bali tingginya maksimal setinggi pohon kelapa atau 15 meter.
Hotel Bali Beach dibangun atas biaya dari rampasan perang Jepang. Hotel tersebut pernah terbakar pada tanggal 20 Januari 1993. Pada saat hotel tersebut terbakar terjadi keanehan yaitu kamar nomor 327, satu-satunya kamar yang tidak terbakar sama sekali.
Setelah Hotel Bali Beach diresmikan pada bulan November 1966, maka bulan Agustus 1969 diresmikan Pelabuhan Udara Ngurah Rai sebagai pelabuhan internasional. Kepariwisataan di Bali dilaksanakan secara lebih intensif, teratur dan terencana yaitu ketika dimulai dicanangkan Pelita I pada April 1969.
Objek-Objek Wisata di Bali
Ini adalah beberapa objek-objek wisata di Bali:
A. Objek wisata alam:
1. Pantai Sanur
2. Gunung Agung
3. Pantai Kuta
4. Taman Nasional Bali Barat
B. Objek wisata sejarah:
1. Museum Le Mayeur
2. Museum Bajra Sandhi
3. Pura Taman Ayun
4. Museum Subak Sanggulan
C. Objek wisata budaya:
1. Tari Kecak
2. Tari Barong
3. Ritual Ngaben
4. Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana
D. Objek wisata minat khusus:
1. Desa Wisata Batubulan
2. Taman Burung Bali
3. Desa Adat Penglipuran
E. Objek wisata belanja
1. Pasar Seni Sukawati
Dan berikut ini akan kami bahas objek-objek wisata alam dan wisata sejarah yang terdapat di Bali.
Pantai Sanur
A. Selayang Pandang
Pantai Sanur merupakan salah satu pantai di Pulau Bali yang menarik untuk dikunjungi. Keindahan panorama alamnya membuat Pantai Sanur terkenal bahkan sejak jaman dahulu. Dalam sejarah Bali kuno, Pantai Sanur telah dikenal sebagai pantai yang indah, hal itu nampak dalam Prasasti Raja Kasari Warmadewa, seorang raja yang berkeraton di Singhadwala pada tahun 917 M. Sekarang, prasasti tersebut terdapat di daerah Blanjong, bagian selatan Pantai Sanur.
Pada masa kolonial Belanda, Pantai Sanur terkenal sebagai lokasi pendaratan bala tentara Belanda ketika akan menyerang Kerajaan Badung yang dianggap membangkang pada pemerintah kolonial. Perang yang terjadi pada tanggal 18 November 1906 itu kemudian dikenal sebagai Puputan Badung, yaitu semangat perang sampai mati yang dipraktekkan oleh Raja Badung dan pengikut-pengikutnya.
Dari segi pariwisata, Pantai Sanur mulai dikenalkan ke dunia internasional oleh A. J. Le Mayeur, seorang pelukis dari Belgia yang datang ke Bali pada tahun 1932. Melihat daya tarik Pantai Sanur yang sangat indah, maka Le Mayeur memutuskan untuk menetap di Sanur dengan mendirikan sanggar melukis. Le Mayeur kemudian menikah dengan gadis Bali bernama Ni Nyoman Pollok, seorang penari Legong yang terkenal dan merupakan salah satu model lukisannya. Melalui lukisan Le Mayeur, Pantai Sanur mulai dikenal oleh dunia internasional. Saat ini, sanggar lukis tersebut telah menjadi Museum Le Mayeur dan dapat dikunjungi oleh publik. Museum Le Mayeur berada dalam area wisata Pantai Sanur.
B. Keistimewaan
Berbeda dengan Pantai Kuta yang menyajikan keindahan matahari terbenam (sunset), Pantai Sanur terkenal karena keindahan panorama mentari terbitnya (sunrise). Topografinya yang melengkung dengan hamparan pasir putih yang membentang membentuk gugusan pantai yang elok. Di pagi hari, sembari menikmati detik-detik terbitnya mentari yang mempesona, wisatawan dapat menyaksikan gugusan pulau Nusa Penida di sebelah tenggara serta panorama pantai selatan Pulau Bali.
Pemandangan di sore hari juga tak kalah menarik. Surutnya air laut memperjelas pandangan mata pada gugusan Pulau Serangan dan bukit batu karang yang menjorok ke laut di sebelah selatan Pantai Sanur. Tak hanya itu, jika gelombang air laut tidak begitu besar, wisatawan dapat menyaksikan keindahan batu karang yang membentang berwarna-warni.
C. Lokasi
Pantai Sanur terletak di Desa Sanur, Kecamatan Denpasar, Kota Denpasar, Provinsi Bali.
D. Akses
Pantai Sanur berjarak sekitar 6 km dari pusat kota Denpasar dan dapat dicapai dengan kendaraan pribadi seperti mobil atau sepeda motor. Jika ingin menggunakan kendaran umum (bemo), wisatawan tak perlu khawatir karena kendaraan umum sangat ramai mondar-mandir antara Sanur-Denpasar.
E. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Kawasan Sanur merupakan kawasan pengembangan wisata pertama di Bali, ditandai dengan hadirnya hotel-hotel berbintang serta berbagai macam restoran. Oleh sebab itu, wisatawan tak perlu khawatir jika membutuhkan penginapan atau warung makan di sekitar pantai ini. Selain itu, kawasan wisata Pantai Sanur juga menyediakan kios-kios suvenir yang menjual berbagai barang kesenian serta oleh-oleh khas pantai.
Gunung Agung
A. Selayang Pandang
Gunung Agung merupakan gunung tertinggi di Pulau Bali. Gunung berapi ini mulanya memiliki ketinggian sekitar 3.142 meter di atas pemukaan laut (dpl), namun setelah meletus pada tahun 1963 diperkirakan ketinggiannya turun menjadi 2.920—3.014 meter dpl. Saat ini, puncak tertinggi Gunung Agung terletak di bagian barat daya, tepat di atas Pura Besakih.
Bagi masyarakat Bali, Gunung Agung adalah gunung suci yang merupakan pertanda keagungan Yang Maha Kuasa. Satu kejadian yang cukup menggemparkan terjadi ketika Gunung Agung meletus pada tahun 1963 dan menewaskan sekitar 1.000 orang serta merusak lebih dari 100.000 rumah penduduk. Namun, anehnya bencana alam tersebut tidak membuat kerusakan yang berarti terhadap Pura Besakih yang letaknya kira-kira hanya 1 km dari kawah Gunung Agung.
Kejadian lainnya, kira-kira 40 hari sebelum bencana letusan Gunung Agung terjadi, pemerintah Indonesia telah mencanangkan event Ekadasa Rudra (perayaan setiap seratus tahun Pura Besakih) pada tanggal 8 Maret 1963 sebagai event kunjungan wisata internasional. Meskipun sejak akhir bulan Februari 1963 Gunung Agung mulai menunjukkan aktivitas yang cukup membahayakan, seperti menyemburkan asap, debu, serta mengeluarkan suara gemuruh, akan tetapi pemerintah Indonesia enggan mengundurkan tanggal penyelenggaraan ritual tersebut. Namun pada akhirnya, event itu ditangguhkan juga hingga tahun 1979 karena alasan keselamatan para wisatawan. Yang cukup mengherankan, letusan dahsyat Gunung Agung baru benar-benar terjadi pada tanggal 17 Maret 1963 (versi yang lain menyebutkan tanggal 18 Maret) setelah para turis meninggalkan lokasi rencana perayaan Ekadasa Rudra tersebut.
B. Keistimewaan
Gunung Agung termasuk obyek wisata pendakian terkemuka di Indonesia. Sebagai gunung berapi yang masih aktif, Gunung Agung menyajikan panorama kepulan asap dan semburan pasir dan kerikil dari lubang kawah yang menganga dengan diameter 500 meter. Jika cuaca sedang cerah, dari puncak gunung ini wisatawan dapat menikmati pemandangan kota-kota di sekitarnya. Keindahan alam inilah yang menarik wisatawan untuk mendaki puncak Gunung Agung.
Supaya aktivitas pendakian berjalan aman, ada beberapa pantangan yang harus dihindari oleh para pendaki gunung ini. Pantangan pertama adalah mendaki saat berlangsungnya perayaan keagamaan di Pura Besakih maupun Pura Pasar Agung. Pantangan lainnya, bagi wisatawan perempuan sebaiknya tidak mendaki ketika sedang datang bulan. Sebab, menurut kepercayaan masyarakat setempat, apabila dua pantangan tersebut dilanggar akan mengundang musibah.
C. Lokasi
Gunung Agung terletak di Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali, Indonesia.
D. Akses
Untuk menuju Gunung Agung via Pura Besakih, wisatawan dapat memulai perjalanan dari Kota Denpasar dengan jarak sekitar 25 km ke arah utara. Alternatif lainnya, wisatawan dapat menempuh perjalanan dari Kota Semarapura (Kabupaten Klungkung) ke Pura Besakih menggunakan angkutan umum (bemo) dengan biaya sekitar Rp 5.000 (April 2008).
Untuk aktivitas pendakian, wisatawan dapat menempuh dua jalur, yaitu rute dari Pura Besakih dan rute dari Pura Pasar Agung. Rute dari Pura Besakih boleh dibilang cukup populer, karena melalui rute ini pendaki akan sampai di puncak tertinggi Gunung Agung. Dari Pura Besakih, wisatawan dapat menempuh perjalanan hingga ke tempat perkemahan dengan waktu tempuh sekitar 4 jam berjalan kaki. Selanjutnya, pendakian terakhir melewati punggung gunung yang cukup datar hingga mencapai puncak/tubir kawah dengan waktu tempuh +2 jam. Sementara itu, pendakian dari Pura Pasar Agung menuju puncak memakan waktu antara 3-4 jam. Hanya saja jalur pendakian melalui rute Pura Pasar Agung jauh lebih terjal dibandingkan dengan rute Pura Besakih.
Aktivitas pendakian dianjurkan dilakukan pada musim kemarau, antara bulan Juli-September, karena pada musim hujan rute pendakian akan lebih berbahaya, jalan lebih licin, dan suhu di puncak gunung dapat turun secara drastis. Oleh sebab itu, para pendaki juga sebaiknya melengkapi peralatan seperti pakaian tebal untuk menjaga suhu tubuh, lampu senter untuk penerangan, serta makanan dan minuman secukupnya karena total waktu naik-turun gunung dapat mencapai 15-20 jam.
E. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Untuk memudahkan pendakian, wisatawan dapat menyewa jasa pemandu (guide) dengan biaya sekitar Rp 150.000-Rp 300.000 untuk satu orang pemandu (April 2008). Selain itu, apabila wisatawan memerlukan peralatan mendaki, pengunjung dapat menyewanya di sekitar lokasi pendakian. Jika ingin menyewa penginapan untuk istirahat atau sekedar menunggu waktu memulai pendakian, wisatawan dapat menginap di Pura Besakih maupun Pura Pasar Agung atau menyewa losmen di sekitar pura. Untuk memenuhi kebutuhan perut wisatawan jangan khawatir, di sekitar Pura Pasar Agung dan Pura Besakih terdapat warung makan yang menjual makanan khas Bali.
Pantai Kuta
A. Selayang Pandang
Bagi wisatawan (tourist) domestik maupun mancanegara, menikmati waktu senja di Pulau Bali terasa tidak lengkap jika belum menyaksikan matahari tenggelam (sunset) di Pantai Kuta. Daya tarik Pantai Kuta berbeda dengan Pantai Sanur yang lebih diminati karena keindahan mentari terbitnya (sunrise). Selain panorama sunset, Pantai Kuta juga menyuguhkan pemandangan yang cukup mengesankan, yakni garis lengkung pantainya yang berbentuk bulan sabit dengan hamparan pasir putih sepanjang +2 km.
Sebelum menjelma menjadi obyek wisata terkemuka, dulunya Pantai Kuta merupakan salah satu pelabuhan dagang di Pulau Bali yang menjadi pusat pemasaran hasil-hasil bumi masyarakat pedalaman dengan para pembeli dari luar. Pada abad ke-19, Mads Lange, seorang pedagang asal Denmark, menetap dan mendirikan markas dagang di Pantai Kuta. Melalui keterampilannya bernegosiasi, Mads Lange menjadi perantara perdagangan antara raja-raja di Bali dengan Belanda.
Pada perkembangannya, Pantai Kuta mulai kondang setelah Hugh Mahbett menerbitkan buku berjudul Pujian untuk Kuta. Buku tersebut berisi ajakan kepada masyarakat setempat untuk menyiapkan fasilitas pariwisata demi menunjang perkembangan kunjungan wisata ke Pantai Kuta. Melalui buku itu, wacana tentang pengembangan fasilitas pariwisata kian marak, sehingga pembangunan penginapan, restoran, maupun tempat-tempat hiburan makin meningkat.
B. Keistimewaan
Sebagai pantai paling populer di Bali, denyut aktivitas wisatawan di Pantai Kuta beranjak dari pagi hingga dini hari. Pada pagi hari, Pantai Kuta dikunjungi oleh wisatawan yang ingin menghirup udara segar, sekedar berjalan-jalan, atau mencari sarapan. Pada siang hari, para turis baik domestik maupun mancanegara biasa menikmati panorama alam sembari berjemur di pinggir pantai. Ada juga keluarga yang membawa anak-anak mereka untuk bermain pasir atau berenang di pantai.
Jika sore menjelang, jumlah wisatawan umumnya bertambah untuk menyaksikan daya pikat pantai ini, yaitu matahari tenggelam (sunset). Apabila malam telah merambat, suasana Pantai Kuta berubah lebih semarak dengan suasana kehidupan malam (night life) yang terpusat di sejumlah tempat hiburan.
Sunset di sebuah villa di Pantai Kuta
Daya tarik lainnya, Pantai Kuta memiliki deburan ombak yang besar yang menjadi tantangan tersendiri bagi para wisatawan untuk melakukan olahraga selancar (surfing). Tempat ini juga kerapkali menjadi arena perlombaan selancar tingkat nasional maupun tingkat dunia. Kendati demikian, Pantai Kuta juga cocok untuk para pemula yang baru belajar berselancar.
C. Lokasi
Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Propinsi Bali, Indonesia.
D. Akses
Untuk menuju ke Pantai Kuta, wisatawan dapat memulai perjalanan dari Kota Denpasar. Dari ibukota Propinsi Bali ini Pantai Kuta terletak sekitar 11 km arah selatan. Dari Denpasar wisatawan dapat menggunakan jasa transportasi umum (taksi maupun bemo) dengan lama perjalanan sekitar 15-20 menit.
E. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Sebagai pusat destinasi pariwisata di Pulau Bali, Pantai Kuta memiliki beragam fasilitas pendukung, salah satunya adalah pusat pelatihan dan penyewaan peralatan surfing. Bagi wisatawan yang ingin belajar melakukan surfing, di pantai ini tersedia tempat-tempat khusus yang menyewakan peralatan selancar dan sekaligus pemandu. Di pantai ini juga tersedia arena hiburan, seperti bungy jumping, water boom serta arena permainan lainnya. Selain itu, di sepanjang Pantai Kuta terdapat berbagai macam kafe, bar, pub, diskotek, maupun ajang live music yang selalu ramai dikunjungi oleh para turis untuk menghabiskan waktu atau sekedar menambah hiburan di malam hari.
Bagi para penggemar belanja, di sekitar Pantai Kuta tersedia toko-toko suvenir yang menjual barang kerajinan dalam berbagai bentuk, berbagai macam aksesoris, pakaian khas pantai, serta kaos oblong. Di dekat Pantai Kuta juga terdapat supermarket, hotel berbintang, wisma, serta warung makan maupun restoran yang menyuguhkan berbagai masakan dengan selera lokal maupun cita rasa global.
(Kiri) Tampak Pantai Kuta dari pinggir kolam renang di sebuah Villa. (Kanan) Para penjual aksesoris dan jasa penyewaan papan selancar
Apabila wisatawan ingin sekedar relaksasi, di pinggiran Pantai Kuta terdapat para pemijat profesional yang bisa langsung disewa dengan biaya sekitar Rp 20.000 untuk setengah jam dan Rp 40.000 untuk satu jam pemijatan. Ada juga penjual jasa yang memiliki keterampilan untuk mempercantik penampilan wisatawan, misalnya para pembuat tatto temporer, pewarna kuku, serta penata/pengepang rambut.
Taman Nasional Bali Barat
A. Selayang Pandang
Riwayat Taman Nasional Bali Barat (TNBB) dimulai sejak tanggal 24 Maret 1911, ketika seorang ahli biologi dari Jerman, Dr. Baron Stressman, mendarat di sekitar wilayah Singaraja karena kapal Ekspedisi Maluku II yang ditumpanginya mengalami kerusakan. Baron Stressman tinggal di wilayah ini selama tiga bulan. Melalui penelitian yang tak disengaja, Baron Stressman menemukan spesies burung endemik yang langka, yaitu jalak bali (leucopsar rothschildi) di Desa Bubunan, sekitar 50 km dari Singaraja.
Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Dr. Baron Viktor von Plesen, yang menyimpulkan bahwa penyebaran Jalak Bali hanya meliputi Desa Bubunan sampai ke Gilimanuk, yaitu seluas +320 km2. Oleh karena populasi jalak bali ketika itu terbilang langka, maka pada tahun 1928 sejumlah 5 ekor jalak bali dibawa ke Inggris dan berhasil dikembangbiakkan pada tahun 1931. Kemudian pada tahun 1962, Kebun Binatang Sandiego di Amerika Serikat juga dikabarkan telah mengembangbiakkan burung ini.
Selain jalak bali, hewan langka lainnya yang hidup di taman nasional ini adalah harimau bali. Untuk melindungi hewan-hewan langka tersebut, maka Dewan Raja-raja di Bali mengeluarkan SK No. E/I/4/5/47 tanggal 13 Agustus 1947 yang menetapkan kawasan Hutan Banyuwedang dengan luas 19.365,6 ha sebagai Taman Pelindung Alam (Natuur Park) yang statusnya sama dengan suaka margasatwa.
Setelah Indonesia merdeka, melalui SK Menteri Pertanian No. 169/Kpts/Um/3/1978 tanggal 10 Maret 1978, kawasan yang terdiri dari Suaka Margasatwa Bali Barat, Pulau Menjangan, Pulau Burung, Pulau Kalong, serta Pulau Gadung ditetapkan sebagai Suaka Alam Bali Barat dengan luas keseluruhan 19.558,8 ha. Pada tahun 1984, Suaka Alam Bali Barat tersebut ditetapkan sebagai Taman Nasional Bali Barat dengan luas wilayah 19.558,8 ha. Namun, karena sebagian kawasan taman nasional ini (3.979,91 ha) merupakan kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) yang menjadi kewenangan Dinas Kehutanan, maka melalui SK Menteri Kehutanan No. 493/Kpts-II/1995 tanggal 15 September 1995, luas taman nasional hanya menjadi 19.002,89 ha, terdiri dari 15.587,89 ha wilayah daratan dan 3.415 ha wilayah perairan.
B. Keistimewaan
Taman Nasional Bali Barat memiliki jenis ekosistem yang unik, yaitu perpaduan antara ekosistem darat dan ekosistem laut. Di kawasan ini, wisatawan dapat menjelajahi ekosistem daratan (hutan), mulai dari hutan musim, hutan hujan dataran rendah, savana, hingga hutan pantai. Sementara pada ekosistem perairan (laut), wisatawan dapat menyaksikan hijaunya hutan mangrove, keelokan pantai, ekosistem coral, padang lamun, serta perairan laut dangkal dan dalam.
Memasuki kawasan hutan, maka wisatawan dapat menjumpai sekitar 175 jenis tumbuhan, 14 jenis di antaranya terbilang langka, antara lain bayur (pterospermum diversifolium), ketangi (lagerstroemia speciosa), burahol (steleochocarpus burahol), cendana (santalum album), sonokeling (dalbergia latifolia), dan lain-lain. Selain itu, wisatawan juga dapat melihat langsung aneka jenis satwa yang hidup bebas di taman nasional ini, seperti burung jalak bali (leucopsar rothschildi) yang merupakan hewan endemik dan langka, burung ibis putih kepala hitam (threskiornis melanocephalus), kijang (muntiacus muntjak), trenggiling (manis javanicus), landak (hystric brachyura), serta kancil (tragulus javanicus). Sementara jenis fauna yang terkenal di perairan taman nasional ini adalah ikan hiu (carcharodon carcharias), ikan bendera (plateak pinnatus), serta kima raksasa (tridacna gigas). Kekayaan bawah laut lainnya adalah berbagai jenis terumbu karang yang sangat bervariasi. Pendataan yang dilakukan tahun 1998 menunjukkan, terdapat 110 spesies karang dalam 18 familia, termasuk 22 jenis di antaranya spesies karang jamur (mushroom coral).
Selain menikmati ekosistem daratan dan perairan, wisatawan juga dapat menjelajahi pulau-pulau kecil yang menjadi bagian dari Taman Nasional Bali Barat, antara lain Pulau Menjangan, Pulau Gadung, Pulau Burung, serta Pulau Kalong. Pulau Menjangan merupakan salah satu pulau favorit yang kerap dikunjungi oleh wisatawan. Pulau dengan luas sekitar 6.000 ha ini merupakan habitat menjangan atau rusa (cervus timorensi). Tak hanya itu, wisatawan juga dapat menyelam di perairan di sekitar Pulau Menjangan untuk melihat gugusan karang yang indah dengan jenis ikan karang yang beragam.
Selain menikmati keindahan alam dan binatang liar, wisatawan juga dapat melakukan wisata ziarah ke makam Mbah Temon, yaitu petilasan yang ditemukan oleh sesepuh masyarakat sekitar bernama Mat Yamin pada tahun 1954. Dinamai Mbah Temon karena petilasan ini baru ditemukan (temu atau ketemu) setelah Mat Yamin melakukan olah semedi. Petilasan lainnya yang cukup melegenda adalah makam I Wayan Jayaprana. Jayaprana adalah seorang pemuda tampan yang dalam Babad Bali dikisahkan telah dibunuh oleh Patih Sawunggaling, utusan Raja Kalianget, karena sang raja menginginkan istri Jayaprana yang cantik jelita, Ni Nyoman Layonsari.
C. Lokasi
Wilayah TNBB terbentang di dua kabupaten, yaitu Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, dan Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali, Indonesia.
D. Akses
Taman Nasional Bali Barat mudah dicapai baik dari Kota Denpasar maupun dari Pelabuhan Gilimanuk. Hal ini karena lokasi taman nasional ini dilalui oleh jalan raya Gilimanuk—Negara maupun jalan raya Gilimanuk—Singaraja. Untuk menuju lokasi, wisatawan dapat menggunakan mobil pribadi atau menggunakan kendaraan umum (bus, taksi, atau carter mobil).
Untuk memudahkan perjalanan wisata, maka wisatawan dapat mencapai Taman Nasional Bali Barat dengan dua alternatif. Pertama, apabila memulai perjalanan dari Pelabuhan Gilimanuk, maka wisatawan dapat mengunjungi Kantor Balai Taman Nasional Bali Barat yang berlokasi di Desa Gilimanuk, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana. Kantor ini berjarak sekitar 200 km dari Kota Denpasar. Alternatif kedua, apabila wisatawan berangkat dari arah Kota Denpasar atau khusus ingin mengunjungi Pulau Menjangan, maka ada baiknya untuk memulainya dari Teluk Labuhan Lalang. Dari Labuhan/Dermaga Lalang wisatawan dapat dengan mudah menuju Pulau Menjangan atau pulau-pulau kecil lainnya.
E. Harga Tiket
Harga tiket untuk menikmati Taman Nasional Bali Barat adalah Rp 2.500,00 per orang untuk wisatawan domestik, dan Rp 20.000,00 untuk wisatawan asing.
F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Taman Nasional Bali Barat memiliki berbagai macam akomodasi dan fasilitas, antara lain pemandu wisata (guide), pondok jaga, pondok wisata (untuk istirahat wisatawan), menara pandang, jalan setapak untuk memudahkan penjelajahan, penyewaan peralatan selam, speed boat, dan lain-lain. Wisatawan yang ingin menyelam dengan menyewa dive operator dikenakan biaya sekitar US$ 55 (Juni 2008). Harga tersebut sudah termasuk makan siang, sewa perahu, peralatan menyelam, serta ongkos transportasi.
Khusus untuk fasilitas penyeberangan ke Pulau Menjangan, wisatawan dapat menyewa perahu dengan mesin tempel. Biaya sewa sebesar Rp 250.000 per empat jam. Apabila ingin menambah waktu penjelajahan, misalnya dengan menjelajahi perairan di sekitar pulau, maka dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 20.000 per jam (Juni 2008). Apabila wisatawan memerlukan penginapan, di sekitar Labuhan Lalang maupun di Pelabuhan Gilimanuk banyak terdapat penginapan baik hotel melati, resort, maupun hotel berbintang.
Museum Le Mayeur
A. Selayang Pandang
Adrien-Jean Le Mayeur de Merpres adalah seorang keturunan bangsawan dari Belgia. Ia dilahirkan di Brussels, 9 Februari 1880, dan mewarisi darah seni dari orang tuanya. Pendidikan terakhirnya adalah insinyur bangunan di Universitas Libre, Brussel. Lantaran dilarang mengembangkan bakat melukisnya, Le Mayeur nekat meninggalkan keluarganya dan berkeliling dunia.
Le Mayeur tiba di Bali pada tahun 1932 melalui pelabuhan di kota Singaraja. Tak lama kemudian, ia melanjutkan perjalanan ke Denpasar dan mulai menetap di Pantai Sanur. Mulanya Le Mayuer berencana berkunjung selama delapan bulan, akan tetapi menyaksikan keindahan alam serta kecantikan para penari Bali, Le Mayeur terbetik untuk mendirikan rumah dan sanggar melukis di tepi Pantai Sanur. Seorang penari legong bernama Ni Nyoman Pollok yang menjadi model lukisannya menarik hati Le Mayeur untuk mempersuntingnya. Mereka kemudian menikah.
Kisah kehidupan dua seniman ini sebetulnya cukup mengharukan. Melalui pernikahan dengan Le Mayeur, Ni Pollok sebenarnya ingin memiliki keturunan. Tetapi keinginan itu ditolak oleh sang suami. Alasannya, Ni Pollok adalah model lukisan. Keindahan tubuh Ni Pollok dikhawatirkan rusak apabila hamil dan melahirkan. Pasangan seniman ini tidak dikaruniai keturunan hingga akhir hidupnya.
Rumah dan sanggar melukis yang dibangun oleh Le Mayeur kemudian didedikasikan sebagai museum. Melalui surat wasiat yang ditulis pada tahun 1957, disepakati bahwa apabila pasangan Le Mayeur-Ni Pollok telah wafat, maka rumah mereka di Pantai Sanur akan diserahkan kepada pemerintah sebagai museum.
B. Keistimewaan
Le Mayeur dikenal sebagai salah seorang pelukis yang mengangkat keindahan panorama alam, ekspresi budaya, serta kecantikan perempuan Bali ke dalam kanvas. Di dalam museum ini, pengunjung dapat menikmati karya-karya lukisan serta benda-benda bersejarah peninggalan Le Mayeur seperti kursi, meja berukir, ranjang, lemari, jambangan bunga dari keramik, peralatan dari perak, guci, buku-buku, serta patung.
Karya lukis Le Mayeur mencapai 88 buah, umumnya memiliki ciri impresionis, dan dibuat antara tahun 1921 sampai 1957. Uniknya, karya-karya tersebut beberapa di antaranya menggunakan media lukis selain kanvas, misalnya hardboard, tripleks, kertas, dan bagor atau kain goni. Media lukis kain goni, misalnya, digunakan oleh Le Mayeur pada masa penjajahan Jepang karena kesulitan mendapatkan kiriman kanvas dari Belgia.
C. Lokasi
Museum Le Mayeur terletak di kawasan wisata Pantai Sanur, Kota Denpasar, Provinsi Bali.
D. Akses
Dari pusat kota Denpasar, perjalanan menuju Museum Le Mayeur dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi maupun angkutan umum (bemo). Angkutan umum (bemo) menuju kawasan Pantai Sanur dapat diakses melalui terminal Kreneng, Kota Denpasar, dan akan mengantarkan pengunjung sampai ujung jalan Hang Tuah. Dari tempat ini, pengunjung harus melalui jalan setapak menuju lokasi museum dengan jarak ±70 m.
Museum Le Mayeur buka antara jam 08.00-15.00 WITA (Sabtu-Kamis), sedangkan pada hari Jumat antara jam 08.00-12.30 WITA. Museum ini tutup pada hari libur nasional.
E. Harga Tiket
Harga tiket dibedakan berdasarkan beberapa kategori. Untuk tiket perorangan (antara 1-9 pengunjung), pengunjung dewasa dikenai biaya sebesar Rp 2.000 per orang dan pengunjung anak-anak Rp 1.000 per anak. Untuk tiket kelompok (minimal 10 orang), pengunjung dewasa cukup membayar Rp 1.000 per orang dan pengunjung anak-anak sebesar Rp 500 per anak (Maret 2008).
F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Setelah menikmati sajian karya seni di Museum Le Mayeur, wisatawan dapat mencicipi masakan khas Bali di warung-warung yang berada di sepanjang Pantai Sanur. Apabila memerlukan penginapan, berbagai macam penginapan mulai dari hotel kelas melati hingga hotel berbintang banyak terdapat di kawasan ini. Untuk melengkapi kunjungan, tentu saja tak lengkap kalau tidak membeli beraneka cinderamata khas Bali yang dijual di kios-kios suvenir di sekitar Pantai Sanur. Selain indah, harganya juga cukup terjangkau.
Monumen Bajra Sandhi
A. Selayang Pandang
Ada beragam cara untuk mengenang dan mengabadikan perjuangan sebuah bangsa, salah satunya dengan mendirikan monumen. Di Bali, perjuangan masyarakat Bali dari masa ke masa terekam dengan baik dalam Monumen Bajra Sandhi. Monumen ini menggambarkan kehidupan masyarakat Bali sejak masa prasejarah hingga masa mempertahankan kemerdekaan, antara tahun 1950-1975. Bentuk-bentuk perjuangan tersebut diilustrasikan ke dalam 33 unit diorama.
Monumen Bajra Sandhi dibangun pada tahun 1987, akan tetapi baru diresmikan pada 14 Juni 2003 oleh presiden Megawati Sukarno Putri. Tujuan utama dibangunnya monumen ini adalah untuk mengekalkan semangat perjuangan dan kreasi budaya masyarakat Bali serta sebagai upaya mewariskannya kepada generasi muda. Nama Bajra Sandhi diambil dari bentuk monumen yang menyerupai lonceng (genta) yang biasa dipakai oleh para pedanda (penghulu agama di Bali) ketika memimpin doa. Sebagaimana lonceng yang biasa digunakan untuk menandai waktu berdoa, nama ini dipilih untuk mengingatkan warga Bali tentang makna perjuangan para pendahulunya.
B. Keistimewaan
Mengunjungi monumen ini wisatawan akan memperoleh gambaran yang cukup lengkap tentang perjalanan sejarah masyarakat Bali dari masa purba hingga modern. Gambaran tersebut tersaji melalui 33 diorama yang disusun melingkar mengikuti kontur ruangan. Tiap bagian diorama berisi patung-patung lengkap dengan setting lingkungan alamiahnya. Untuk memperjelas informasi, terdapat label di bagian luar dalam tiga bahasa: Bahasa Bali dalam aksara Jawa Kuno, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris.
Di bagian-bagian awal, diorama menampilkan manusia purba pada jaman berburu dan meramu. Pada bagian ini, tampak Pithecanthropus Erectus sedang berburu babi menggunakan kapak genggam. Bagian selanjutnya menggambarkan perkembangan masyarakat Bali dari masa kerajaan, masa penjajahan, masa revolusi fisik, hingga masa pascakemerdekaan. Di bagian akhir, diorama memperlihatkan proses pembangunan Universitas Udayana yang berlangsung pada tahun 1975.
Setelah menikmati kilasan sejarah tersebut, pengunjung dapat menaiki tangga untuk mencapai puncak monumen yang berbentuk lonceng. Dari puncak monumen tersebut, pengunjung dapat menyaksikan keindahan kota Denpasar dari ketinggian sekitar 45 meter. Jika waktunya tepat, maka pengunjung dapat menikmati matahari terbenam (sunset) dari tempat ini.
C. Lokasi
Kawasan Renon, kota Denpasar, Provinsi Bali.
D. Akses
Monumen Bajra Sandhi berada di komplek pemerintahan Provinsi Bali tepatnya di depan kantor Gubernur di daerah Renon, Denpasar, Bali. Untuk menuju monumen ini wisatawan dapat menggunakan kendaraan pribadi maupun menumpang taksi. Untuk dua jenis kendaraan ini, pengunjung tidak terlampau kesulitan karena akses menuju monumen tidak terlalu sulit.
Namun, jika wisatawan memanfaatkan angkutan umum (bemo), maka harus diperhatikan bahwa jalan menuju monumen ini merupakan jalan satu arah, sehingga hanya satu angkutan umum yang biasa melintas, yaitu bemo jurusan Sanur-Teuku Umar. Kalau wisatawan berangkat dari arah Sanur, maka dapat dipastikan wisatawan akan turun di depan komplek monumen. Akan tetapi, bila berangkat dari Jalan Teuku Umar, maka wisatawan harus turun di Jalan Cok Agung Tresna kemudian berjalan kaki menuju monumen sejauh +300 meter.
E. Harga Tiket
Untuk memasuki monumen, wisatawan dikenakan bea masuk sebesar Rp 3.000 untuk pengunjung dewasa dan Rp 2.000 untuk anak-anak (Maret 2008).
F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Jika wisatawan kemalaman karena terlalu asik menikmati komplek monumen Bajra Sandhi, wisatawan dapat menyewa hotel mulai dari kelas melati hingga hotel berbintang yang ada di sudut-sudut kota Denpasar. Tak hanya itu, berbagai macam kafe, pub, club, dan tempat-tempat hiburan lainnya dapat menjadi alternatif menghabiskan malam di kota Denpasar.
Pura Taman Ayun
A. Selayang Pandang
Pura Taman Ayun di Kabupaten Badung, Bali, dibangun pada tahun 1634 M oleh raja pertama Kerajaan Mengwi, I Gusti Agung Ngurah Made Agung yang bergelar Ida Cokorda Sakti Belambangan. Kerajaan Mengwi merupakan salah satu kerajaan kuat di Bali yang bertahan hingga tahun 1891. Pura ini dibangun sebagai tempat beribadah keluarga raja dan para pengikutnya. Berbeda dengan pura-pura lainnya di Bali yang ‘berkiblat‘ pada Gunung Agung, Pura Taman Ayun ‘berkiblat‘ ke Gunung Batukau.
Taman Ayun dalam bahasa Bali berarti ‘taman yang cantik‘. Komplek bangunan religius ini berada dalam lahan seluas 4 hektar dengan dikelilingi kolam atau parit. Dari kejauhan, parit tersebut menyerupai ‘gelang air‘ dan memberikan kesan bahwa pura ini berada di atas permukaan air. Di sekeliling pura, terdapat rerimbunan pohon dan bunga-bunga yang menambah elok suasana.
Komplek Pura Taman Ayun terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama adalah ruang terbuka yang digunakan untuk berbagai kegiatan religius dan panggung kesenian. Pada bagian pertama ini pengunjung dapat menikmati indahnya susunan meru, yaitu pagoda dengan atap bertingkat-tingkat khas bangunan pura di Bali. Bagian kedua adalah bangunan utama, yaitu sebuah gedung bernama Bale Pelik. Gedung Bale Pelik dihiasi oleh seni ukir, relief, serta patung Dewa Nawa Sanga yang sangat menawan. Sedangkan bagian lainnya merupakan bangunan-bangunan yang diperuntukkan bagi dewa dan dewi yang disakralkan dalam agama Hindu. Setiap hari, pura yang sempat dipugar pada tahun 1937 ini dikunjungi oleh sekitar 300-600 wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri.
B. Keistimewaan
Pura Taman Ayun telah diusulkan oleh pemerintah Indonesia sebagai salah satu situs warisan budaya dunia (world heritage). Pada 12 Maret 2008 lalu, Dirjen UNESCO Kokhiro Matsuura telah berkunjung ke Pura Taman Ayun untuk menilai kelayakannya. Pura ini dianggap memiliki nilai sejarah, budaya, religi, dan memiliki cita rasa seni yang tinggi.
Meskipun merupakan bagian dari warisan budaya, akan tetapi Pura Taman Ayun masih digunakan sebagai tempat ibadah hingga kini. Mengunjungi pura ini, wisatawan dapat menikmati indahnya bangunan pura yang telah berusia hampir 400 tahun. Selain itu, panorama alam di sekitar pura, seperti pepohonan, bunga, dan rerumputan terpelihara dengan baik, sehingga menambah kesan sejuk lingkungan pura.
Pengunjung juga dapat melihat-lihat peninggalan Kerajaan Mengwi yang berada sekitar 300 meter dari pura ini. Di seberang pura juga terdapat Museum Manusa Yadnya, yaitu museum yang memamerkan upacara-upacara yang berkaitan dengan siklus kehidupan manusia mulai dari ketika berada di dalam kandungan sampai meninggal.
C. Lokasi
Desa Mengwi, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Provinsi Bali.
D. Akses
Dari kota Denpasar jarak Desa Mengwi kurang-lebih 18 km menuju arah barat laut. Untuk menuju Desa Mengwi, wisatawan dapat mengikuti rute perjalanan angkutan umum (bus/bemo) jurusan Denpasar-Singaraja atau Denpasar-Bedugul dengan waktu perjalanan sekitar 25 menit. Wisatawan dapat turun di persimpangan jalan di Desa Mengwi untuk kemudian berjalan kaki menuju komplek pura yang berjarak sekitar 250 meter. Wisatawan dapat mengunjungi pura antara jam 08.00-18.00 WITA.
E. Harga Tiket
Pengunjung Pura Taman Ayun dikenakan biaya masuk sebesar Rp 4.100 untuk dewasa dan Rp 2.100 untuk anak-anak (Maret 2008).
F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Jika tidak ingin repot dengan akomodasi dan transportasi, maka wisatawan dapat menggunakan jasa operator tur untuk sampai di Pura Taman Ayun dan obyek-obyek wisata lainnya di Kabupaten Badung. Selain itu, jika memerlukan penginapan wisatawan dapat menyewa hotel dengan beragam variasi, mulai dari wisma, hotel melati, hingga hotel berbintang yang tersebar di sekitar kota Badung.
Museum Subak Sanggulan
A. Selayang Pandang
Subak adalah sistem pengelolaan distribusi aliran irigasi pertanian khas masyarakat Bali. Sistem ini sudah dikenal sejak ratusan tahun yang lalu dan terbukti mampu meningkatkan produktifitas pertanian di Bali. Melalui sistem Subak, para petani memperoleh jatah air sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh musyawarah warga. Secara filosofis, keberadaan Subak merupakan manifestasi dari konsep Tri Hita Karana, yaitu relasi harmonis antara manusia dan Tuhan, manusia dan alam, serta relasi antar sesama manusia. Oleh sebab itu, kegiatan dalam perkumpulan Subak tak hanya meliputi masalah pertanian semata, melainkan juga meliputi masalah ritual dan peribadatan untuk memohon rejeki yang belimpah.
Potensi kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Bali inilah yang kemudian ‘diawetkan‘ menjadi Museum Subak. Museum Subak diresmikan oleh Gubernur Bali pada tanggal 13 Oktober 1981. Museum ini merupakan Museum Khusus karena memamerkan satu tema, yaitu sistem pertanian di Bali.
Museum Subak dapat dikunjungi pada hari Senin-Sabtu jam 08.00-16.30, dan hari Jumat jam 08.00-13.00. Adapun hari Minggu dan hari libur nasional tutup.
B. Keistimewaan
Museum Subak merupakan satu-satunya museum yang mengetengahkan segala hal ihwal pertanian di Bali. Museum ini memamerkan miniatur Subak lengkap dengan gambar-gambar proses pembuatannya, seperti tahapan menemukan sumber mata air, membuat terowongan air dan membangun bendungan, serta membuat saluran penghubung untuk mengalirkan air ke sawah-sawah penduduk. Museum Subak juga memiliki data audio-visual yang menerangkan tentang proses budidaya padi, mulai dari musyawarah anggota Subak, kesepakatan pengaturan air, serta ritual memohon hasil panen yang melimpah.
Selain itu, museum ini juga memamerkan alat-alat pertanian tradisional Bali, seperti alat pemotong dan penumbuk padi, alat untuk membajak sawah, alat untuk membetulkan saluran irigasi, serta miniatur dapur tradisonal lengkap dengan tata ruang dan perabot untuk memasak nasi. Pengunjung Museum Subak juga dapat menambah pengetahuan tentang pertanian dengan mengunjungi fasilitas pepustakaan di komplek museum ini. Koleksi buku dalam perpustakaan cukup lengkap, mulai dari berbagai kajian lintas disiplin mengenai sistem Subak hingga masalah-masalah pertanian secara umum.
C. Lokasi
Jalan Gatot Subroto, Desa Sanggulan, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali, Indonesia.
D. Akses
Kabupaten Tabanan berjarak sekitar 20 km dari kota Denpasar, Ibukota Provinsi Bali. Dari kota Denpasar, wisatawan dapat menggunakan kendaraan umum (bus) menuju terminal bus kota Tabanan. Dari terminal ini, wisatawan dapat naik angkutan umum (bemo) sejauh 2 km untuk sampai di lokasi Museum.
E. Harga Tiket
Bea masuk bagi pengunjung terbagi ke dalam dua kategori, yaitu:
* Dewasa: Rp 5.000
* Anak-anak: Rp 3.000 (Maret 2008)
*********
Sumber:
Wisatamelayu.com
Balichemist.com
Wikipedia.com
NPM Para Penyusun:
- (11610763)
- (18610702)
- (13610388)
- (10610114)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar