Kamis, 01 November 2012

Penyesalan


Setelah gw pikir-pikir, gw rada nyesel juga masuk universitas yang "ngakunya" world class university ini
setelah perjalanan sampai tingkat 3 ini, gw sudah mulai mengetahui apa sih karakter sebenarnya dari universitas ini. gw ngerasa pola pikir gw makin hari makin berkembang, makin terbuka akan apa yang ada di sekitar gw. karena itulah gw sekarang bisa menilai universitas gunadarma ini dengan pola pikir yang jauh berkembang. ya dulu waktu lulus SMA gw gatau apa2 tentang perkuliahan, sebenernya gw pengen masuk IKJ yang emang sebenernya jatidiri gw ada di seni atau kalo ga gw masuk jurusan komunikasi/broadcasting yang menarik buat gw. karena suatu dan berbagai hal yang menghalangi gw masuk ke sana maka gw putsin masuk Gunadarma. sebenrnya gw ga pernah terbersit sedikit pun kuliah di sini, tapi karena ada undangan masuk gunadarma dan dapet potongan biaya, yaudah lah gw coba aja. bahkan gw gatau harus masuk jurusan apa di universitas ini karena gw gatau jurusan apa aja yang ada di sana,  dan keputusan buat masuk sastra inggris  pun di putuskan hanya dalam waktu 1 menit, waktu gw datang pendaftaran liat daftar jurusan yang ada di sana ada sekitar 10 jurusan, sebenernya ga ada yang bener2 menarik hati gw.
tapi karena banyak yang bilang universitas ini tuh keren dan prospeknya bagus, dan emang kesan pertama yang gw dapet saat gw pertama kali masuk kampus D Gedung 4 emang keren, interiornya kaya mall. pake lift pula. hal itulah yang bikin gw makin mantap buat daftar, yaudah gw putusin masuk sastra inggris yang hanya gw putusin on the spot di ruang pendaftaran saat itu, tanpa mempertimbangkanya matang2. memang karena saat itu gw ngerasa yakin sama universitas ini. dan belum tahu kualitas sebenernya dari kampus ini, dan gw menyenangi sastra dan bahasa inggris. tapi sekarang semua terbalik 180 derajat. gw udah tahu kualitas yang sebenarnya dari kampus ini, kampus ini ngakunya world class university, dan mnegklaim sebagai universitas swasta terbaik di indonesia, tapi itu semua hanya omong kosong buat gw sekarang.
karena apa yang mereka akui gak sesuai dengan fakta yang ada di lapangan, menurut gw gada pantes2nya mereka dapet gelar itu. mulai dari fasilitasnya deh, gak usah jauh2. di dalem kelas aja nih, AC tuh cuma kerasa dikit. bahkan di kampus G kadang AC tuh ga nyala, hari gini kuliah sambil kipas-kipas pake kertas tuh udah ga zaman bgt. ada lagi, kampus ini masih pake alat OHP. yang seharusnya tuh pake proyektor / infocus buat buat belajar. menurut gw sih kuliah pake proyektor akan lebih maksimal karena visual lebih mudah di tangkap otak daripada tulisan, dan bangku mahasiswa pun masih aja pake kayu, apa layak itu di sebut world class university?????
tapi sebenernya itu ga terlalu penting buat gw, karena yang lebih miris adalah ketika gw mendapatkan cukup banyak dosen yang menurut gw ga pantes di sebut dosen. ada dosen jarang masuk, ada juga dosen yang menurut gw tuh ga memberikan ilmu sama sekali, dia hanya membahas soal2, mengerjakan lalu koreksi soal yang di buat tanpa memberikan penjelasan mendalam. dan memberikan nilai A dan B cuma2, mayoritas teman2 gw senang dengan dosen yang seperti ini karena mereka ga usah susah payah dapet nilai bagus.
tapi buat gw itu tuh miris bgt, percuma nilai besar kalo isi otak kita ga berkembang. gada tugas, gada exercise, dan gada usaha dari mahasiswa buat menegmbangkan dirinya. entahlah bagiaman cara berpikir teman2 gw ini yang senang mendapatkan sesuatu secara mudah tanpa usaha yang hebat.
bagi gw proses pembelejaran dan mengembangkan diri lebih penting daripada mendapatkan nilai besar dengan cara yang mudah dan tidak elegan. dan ada lagi yang namanya UM (Ujian Mandiri) yaitu di mana mahasiswa dapat memperbaiki nilai mereka yang jelek menjadi bagus dengan mengikuti test berbayar, yang mungkin hanya formalitas buat gw, karena cheat dari jawaban UM itu udah beredar dimana-mana.
dan pihak dosen pun sepertinya udah tau akan hal itu. miris buat gw, bagaimana seseorang tanpa kualitas atau kelayakan akan dirinya bisa mendapatkan nilai bagus hanya dengan membayar test, dan mengerjakan test itu dengan cheat2 yang ada. sungguh miris, buat gw untuk mendapatkan nilai bagus itu ya harus usaha,
harus belajar, aktiv di kelas, dan berusaha secara jujur. praktek2 curang seperti ini yang bikin gw geleng-gleng kepala, bagaimana bisa maju indonesia apabila penerus bangsa berlaku seperti ini. cara shorcut seperti ini seharusnya di tiadakan, karena dengan adanya UM ini.
membuat mahasiswa terkesan "Menggampangkan" Nilai. mereka bisa membolos sesuka hati, jarang masuk, tidak mengerjakan tugas yang di berikan oleh dosen, tapi mereka bisa mendapatkan nilai bagus hanya dengan mengikuti UM. dan ada hal yang lain yang menurut gw aneh, jadwal UTS dan UAS. jadwal UTS dan UAS kampus ini tuh mungkin yang paling telat daripada kampus2 lain. dan sebulan adalah waktu UTS/UAS di mana kita hanya masuk beberapa hari di 1 bulan itu, misal kita dapat 7 matkul untuk UTS/UAS.
maka dalam waktu 1 bulan itu kita hanya masuk 7 kali/hari, dan masuk secara acak dan tidak berurutan.
bagi gw terlalu banyak libur atau waktu lengang itu gak baik, waktu yang ada tidak bisa di efektifkan dengan perkuliahan. justru yang ada terlalu banyak libur yang menurut gw bikin mahasiswa terlalu nyaman, tidak mendidik mahasiwa untuk lebih mengeluarkan effort yang hebat. oke yang terakhir itu pergaulan atau mayoritas watak anak2 gunadarma. pergaulan zaman sekarang emang bukan rahasia lagi kalo banyak yang menyimpang, dan begitu pula yang terjadi di gundar. setelah gw mencicipi tinggal di kost-an selama 2 bulan gw dapat banyak fakta bahwa begitu liarnya pergaulan di sana. bahkan ada tempat kost-an yang membebaskan siapa saja masuk, dan banyak yang terjadinya free sex, di mana gw mendapatkan cerita dari teman gw di mana sex bebas itu sudah biasa terjadi di lingkungan sekitar kampus.
dan menurut gw watak mayoritas dari anak gunadarma itu tidak mempunyai usaha yang keras untuk dapat nilai, karena begitu di manjakanya mereka dengan fasilitas UM. dan mereka hanya menggunakan status mahasiswa hanya untuk pencitraan, tidak ada usaha kerja keras layaknya seorang mahasiswa sejati.
tapi dalam catatan tidak semua mahasiwa begitu, masih banyak juga mahasiswa yng menurut gw layak di sebut mahasiswa. ya begitulah keadaan kampus gw dalam kacamata gw, sungguh memprihatikan tapi memang benar ini nyata!  gw bukan menyindir atau apa, tapi hanya ingin mengeluarkan unek-unek gw. dan gw merasa baik2 aja sama temen kampus gw. ga ada masalah sama skali, dan yang gw sesali itu ya qualitas kampusnya, disini gw ngerasa ga bisa terlalu ngembangin kemampuan gw yg ada.
gw msh ngerasa ga ada kemajuan signifikan, harusnya gw bisa ngelakuin hal yang lebih. tapi apa? semua aspek di kampus ini ga bisa bikin gw lebih berkembang jauh. mungkin bertahan sampai gw dapat gelar S1 adalah hal terbaik, walaupun gw merasa sangat menyesal masuk kampus ini. ya mau bagaimana lagi? sekarang gw tingkat 3... sebentar lagi PI dan tahun depan skripsi. kalo resign mungkin tanggung waktunya, ya harapan gw sih semoga kampus ini bisa mengevaluasi diri. bisa melakukan hal yang lebih baik lagi sehingga gelar "wolrd class university" tuh bener2 layak di sandang. kalian yang baca tulisan gw ini mungkin adalah anak gundar, kalian boleh ga suka tulisan yang gw buat ini, tapi ini kenyataan. dan gw hanya mengeluarkan isi pendapat gw di sini. terimakasih

Jumat, 19 Oktober 2012

Konser Terakhir Jensiv Jaret Guncang Jakarta

Pada Sabtu malam 20/10/12 Istora Senayan di ramaikan dengan acara konser tunggal Jensiv Jaret yang bertajuk "We Need One Last Breath", konser ini adalah konser sebagai perpisahan dari band ini yang memutuskan untuk bubar ini, karena ini adalah konser terakhirnya maka tiket yang terjual sold out di beli para fans jensiv jaret, malam itu Band yang di punggawai oleh Yuda, Ade dan Musdeck membawakan 15 lagu, tembang-tembang andalan seperti "Pesta", "sahabat" dan :Hari Ini" menyihir ribuan pononton, suasana makin haru saat para personil mengucapkan perpisahan kepada fans dengan di iringi hujan bunga buatan.Leader dari band ini yaitu Yuda mengatakan bahwa "Kami bertiga akan terus berkarya, walaupun kami mengambil jalan masing-masing sekarang, dan terimakasih atas semua dukungan yang telah di berikan oleh semua pihak terutama para fans". setelah bubar kabarnya Yuda akan membentuk band baru yang masih di rahasiakan namanya.

YUDA PRIA AMBADA
3 SA 02
18610702

Kode Etik Jurnalistik

Kode Etik Jurnalistik

Kemerdekaan berpendapat, berekspresi, dan pers adalah hak asasi manusia yang dilindungi Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB.
Kemerdekaan pers adalah sarana masyarakat untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi, guna memenuhi kebutuhan hakiki dan meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Dalam mewujudkan kemerdekaan pers itu, wartawan Indonesia juga menyadari adanya kepentingan bangsa, tanggung

Penafsiran Pasal Demi Pasal

Pasal 1

Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.
Penafsiran
a. Independen berarti memberitakan peristiwa atau fakta sesuai dengan suara hati nurani tanpa campur tangan, paksaan, dan intervensi dari pihak lain termasuk pemilik perusahaan pers.
b. Akurat berarti dipercaya benar sesuai keadaan objektif ketika peristiwa terjadi.
c. Berimbang berarti semua pihak mendapat kesempatan setara.
d. Tidak beritikad buruk berarti tidak ada niat secara sengaja dan semata-mata untuk menimbulkan kerugian pihak lain.

Pasal 2

Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik.
Penafsiran
Cara-cara yang profesional adalah:
a. menunjukkan identitas diri kepada narasumber;
b. menghormati hak privasi;
c. tidak menyuap;
d. menghasilkan berita yang faktual dan jelas sumbernya;
e. rekayasa pengambilan dan pemuatan atau penyiaran gambar, foto, suara dilengkapi dengan keterangan tentang sumber dan ditampilkan secara berimbang;
f. menghormati pengalaman traumatik narasumber dalam penyajian gambar, foto, suara;
g. tidak melakukan plagiat, termasuk menyatakan hasil liputan wartawan lain sebagai karya sendiri;
h. penggunaan cara-cara tertentu dapat dipertimbangkan untuk peliputan berita investigasi bagi kepentingan publik.

Pasal 3

Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.
Penafsiran
a. Menguji informasi berarti melakukan check and recheck tentang kebenaran informasi itu.
b. Berimbang adalah memberikan ruang atau waktu pemberitaan kepada masing-masing pihak secara proporsional.
c. Opini yang menghakimi adalah pendapat pribadi wartawan. Hal ini berbeda dengan opini interpretatif, yaitu pendapat yang berupa interpretasi wartawan atas fakta.
d. Asas praduga tak bersalah adalah prinsip tidak menghakimi seseorang.

Pasal 4

Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul.
Penafsiran
a. Bohong berarti sesuatu yang sudah diketahui sebelumnya oleh wartawan sebagai hal yang tidak sesuai dengan fakta yang terjadi.
b. Fitnah berarti tuduhan tanpa dasar yang dilakukan secara sengaja dengan niat buruk.
c. Sadis berarti kejam dan tidak mengenal belas kasihan.
d. Cabul berarti penggambaran tingkah laku secara erotis dengan foto, gambar, suara, grafis atau tulisan yang semata-mata untuk membangkitkan nafsu birahi.
e. Dalam penyiaran gambar dan suara dari arsip, wartawan mencantumkan waktu pengambilan gambar dan suara.

Pasal 5

Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.
Penafsiran
a. Identitas adalah semua data dan informasi yang menyangkut diri seseorang yang memudahkan orang lain untuk melacak.
b. Anak adalah seorang yang berusia kurang dari 18 tahun dan belum menikah.

Pasal 6

Wartawan Indonesia tidak menyalah-gunakan profesi dan tidak menerima suap.
Penafsiran
a. Menyalah-gunakan profesi adalah segala tindakan yang mengambil keuntungan pribadi atas informasi yang diperoleh saat bertugas sebelum informasi tersebut menjadi pengetahuan umum.
b. Suap adalah segala pemberian dalam bentuk uang, benda atau fasilitas dari pihak lain yang mempengaruhi independensi.

Pasal 7

Wartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk melindungi narasumber yang tidak bersedia diketahui identitas maupun keberadaannya, menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang, dan “off the record” sesuai dengan kesepakatan.
Penafsiran
a. Hak tolak adalak hak untuk tidak mengungkapkan identitas dan keberadaan narasumber demi keamanan narasumber dan keluarganya.
b. Embargo adalah penundaan pemuatan atau penyiaran berita sesuai dengan permintaan narasumber.
c. Informasi latar belakang adalah segala informasi atau data dari narasumber yang disiarkan atau diberitakan tanpa menyebutkan narasumbernya.
d. “Off the record” adalah segala informasi atau data dari narasumber yang tidak boleh disiarkan atau diberitakan.

Pasal 8

Wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa atau cacat jasmani.
Penafsiran
a. Prasangka adalah anggapan yang kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengetahui secara jelas.
b. Diskriminasi adalah pembedaan perlakuan.

Pasal 9

Wartawan Indonesia menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik.
Penafsiran
a. Menghormati hak narasumber adalah sikap menahan diri dan berhati-hati.
b. Kehidupan pribadi adalah segala segi kehidupan seseorang dan keluarganya selain yang terkait dengan kepentingan publik.

Pasal 10

Wartawan Indonesia segera mencabut, meralat, dan memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat disertai dengan permintaan maaf kepada pembaca, pendengar, dan atau pemirsa.
Penafsiran
a. Segera berarti tindakan dalam waktu secepat mungkin, baik karena ada maupun tidak ada teguran dari pihak luar.
b. Permintaan maaf disampaikan apabila kesalahan terkait dengan substansi pokok.

Pasal 11

Wartawan Indonesia melayani hak jawab dan hak koreksi secara proporsional.
Penafsiran
a. Hak jawab adalah hak seseorang atau sekelompok orang untuk memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan berupa fakta yang merugikan nama baiknya.
b. Hak koreksi adalah hak setiap orang untuk membetulkan kekeliruan informasi yang diberitakan oleh pers, baik tentang dirinya maupun tentang orang lain.
c. Proporsional berarti setara dengan bagian berita yang perlu diperbaiki.
Penilaian akhir atas pelanggaran kode etik jurnalistik dilakukan Dewan Pers. Sanksi atas pelanggaran kode etik jurnalistik dilakukan oleh organisasi wartawan dan atau perusahaan pers.
Jakarta, Selasa, 14 Maret 2006
Kami atas nama organisasi wartawan dan organisasi perusahaan pers Indonesia:
1. Aliansi Jurnalis Independen (AJI)-Abdul Manan
2. Aliansi Wartawan Independen (AWI)-Alex Sutejo
3. Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI)-Uni Z Lubis
4. Asosiasi Wartawan Demokrasi Indonesia (AWDI)-OK. Syahyan Budiwahyu
5. Asosiasi Wartawan Kota (AWK)-Dasmir Ali Malayoe
6. Federasi Serikat Pewarta-Masfendi
7. Gabungan Wartawan Indonesia (GWI)-Fowa'a Hia
8. Himpunan Penulis dan Wartawan Indonesia (HIPWI)-RE Hermawan S
9. Himpunan Insan Pers Seluruh Indonesia (HIPSI)-Syahril
10. Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI)-Bekti Nugroho
11. Ikatan Jurnalis Penegak Harkat dan Martabat Bangsa (IJAB HAMBA)-Boyke M. Nainggolan
12. Ikatan Pers dan Penulis Indonesia (IPPI)-Kasmarios SmHk
13. Kesatuan Wartawan Demokrasi Indonesia (KEWADI)-M. Suprapto
14. Komite Wartawan Reformasi Indonesia (KWRI)-Sakata Barus
15. Komite Wartawan Indonesia (KWI)-Herman Sanggam
16. Komite Nasional Wartawan Indonesia (KOMNAS-WI)-A.M. Syarifuddin
17. Komite Wartawan Pelacak Profesional Indonesia (KOWAPPI)-Hans Max Kawengian
18. Korp Wartawan Republik Indonesia (KOWRI)-Hasnul Amar
19. Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI)-Ismed hasan Potro
20. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)-Wina Armada Sukardi
21. Persatuan Wartawan Pelacak Indonesia (PEWARPI)-Andi A. Mallarangan
22. Persatuan Wartawan Reaksi Cepat Pelacak Kasus (PWRCPK)-Jaja Suparja Ramli
23. Persatuan Wartawan Independen Reformasi Indonesia (PWIRI)-Ramses Ramona S.
24. Perkumpulan Jurnalis Nasrani Indonesia (PJNI)-Ev. Robinson Togap Siagian-
25. Persatuan Wartawan Nasional Indonesia (PWNI)-Rusli
26. Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Pusat- Mahtum Mastoem
27. Serikat Pers Reformasi Nasional (SEPERNAS)-Laode Hazirun
28. Serikat Wartawan Indonesia (SWI)-Daniel Chandra
29. Serikat Wartawan Independen Indonesia (SWII)-Gunarso Kusumodiningrat. 30. Persatuan Jurnalis Indonesia (PJI)-Darwin Hulalata,SH. (Disunting oleh Asnawin)


YUDA PRIA AMBADA
3 SA 02
18610702

Minggu, 07 Oktober 2012

The History of Journalism

The history of journalism, or the development of the gathering and transmitting of news, spans the growth of technology and trade, marked by the advent of specialized techniques for gathering and disseminating information on a regular basis that has caused, as one history of journalism surmises, the steady increase of "the scope of news available to us and the speed with which it is transmitted."

Journalism and the printing press

The invention of the movable type printing press by Johannes Gutenberg in 1456, led to the wide dissemination of printed books. The first printed periodical was Mercurius Gallobelgicus; written in Latin, it appeared in 1594 in Cologne, and was distributed widely, even finding its way to readers in England.

England

In England the first newsbook, the Continuation of Our Weekly News, was published regularly in London after 1623; it appeared in 8- to 24-page quarto formats. The first newspaper was the Oxford Gazette (later the London Gazette, and published continually ever since), which first appeared in 1665. It began publication while the British royal court was in Oxford to avoid the plague in London, and was published twice a week. When the court moved back to London, the publication moved with it. The first daily newspaper, the Daily Courant, appeared in 1702 and continued publication for more than 30 years. Its first editor was also the first woman in journalism, although she was replaced after only a couple of weeks. By this time, the English had adopted the Press Restriction Act, which required that the printer's name and place of publication be included on each printed document.

France

The first newspaper in France, the Gazette de France, was established in 1632 by the king's physician Theophrastus Renaudot (1586-1653), with the patronage of Louis XIII.[1] All newspapers were subject to prepublication censorship, and served as instruments of propaganda for the monarchy. Jean Loret is considered to be one of France's first journalists. He disseminated the weekly news of Parisian society from 1650 until 1665 in verse, in what he called a gazette burlesque, assembled in three volumes of La Muse historique (1650, 1660, 1665).

Journalism in America

The first real colonial newspaper was the New England Courant, published as a sideline by printer James Franklin, brother of Benjamin Franklin. Like many other Colonial newspapers, it was aligned with party interests and did not publish balanced content. Ben Franklin was first published in his brother's newspaper, under the pseudonym Silence Dogood, in 1722, and even his brother did not know. Ben Franklin's pseudonymous publishing represented a common practice of newspapers of that time of protecting writers from retribution from those they criticized, often to the point of what would be considered libel today.
Ben Franklin moved to Philadelphia in 1728 and took over the Pennsylvania Gazette the following year. Ben Franklin expanded his business by essentially franchising other printers in other cities, who published their own newspapers. By 1750, 14 weekly newspapers were published in the six largest colonies. The largest and most successful of these could be published up to three times per week.

American Independence

By the 1770s, 89 newspapers were published in 35 cities. Most papers at the time of the American Revolution were anti-royalist, chiefly because of opposition to the Stamp Act taxing newsprint. Colonial governments could suppress newspapers by denying the stamp or refusing to sell approved paper to the offending publisher.
Newspapers flourished in the new republic — by 1800, there were about 234 being published — and tended to be very partisan about the form of the new federal government, which was shaped by successive Federalist or Republican presidencies. Newspapers directed much abuse toward various politicians, and the eventual duel between Alexander Hamilton and Aaron Burr was fueled by controversy in newspaper pages.
As the 19th century progressed in America, newspapers began functioning more as private businesses with real editors rather than partisan organs, though standards for truth and responsibility were still low. Other than local news, much of the content was copied from other newspapers. In addition to news stories, there might be poetry or fiction, or (especially late in the century) humorous columns."

Rise of prominent newspapers in the U.S.

As American cities like New York, Philadelphia, Boston and Washington grew with the rise of the Industrial Revolution, so did newspapers. Larger printing presses, the telegraph, and other technological innovations allowed newspapers to print thousands of copies, boost circulation, and increase revenue.
The first newspaper to fit the modern definition of a newspaper was the New York Herald, founded in 1835 and published by James Gordon Bennett, Sr.. It was the first newspaper to have city staff covering regular beats and spot news, along with regular business and Wall Street coverage. In 1838 Bennett also organized the first foreign correspondent staff of six men in Europe and assigned domestic correspondents to key cities, including the first reporter to regularly cover Congress.
Not to be outdone was the New York Tribune, which began publishing in 1841 and was edited by Horace Greeley. It was the first newspaper to gain national prominence; by 1861, it shipped thousands of copies daily to other large cities, including 6,000 to Chicago, while other Eastern newspapers published weekly editions for shipment to other cities. Greeley also organized a professional news staff and embarked on frequent publishing crusades for causes he believed in. The Tribune was the first newspaper, in 1886, to use the linotype machine, invented by Ottmar Mergenthaler, which "rapidly increased the speed and accuracy with which type could be set."
The New York Times, now one of the most well-known newspapers in the world, was founded in 1851 by George Jones and Henry Raymond. It established the principle of balanced reporting in high-quality writing. At the time, it did not achieve the circulation and success it now enjoys.[2]

Growth of newspapers outside eastern U.S. cities

The influence of these large newspapers in New York and other Eastern cities slowly spread to smaller cities and towns, Weekly newspapers gave way to dailies, and competition between newspapers even in small towns became fierce.
In the Midwest and beyond, there was a boom for local newspapers, which remained more focused on local news and services than the larger urban newspapers. Many newspapers flourished during the conquest of the West, as homesteaders were required to publish notices of their land claims in local newspapers. Many of these papers died out after the land rushes ended.

The rise of the wire services

The American Civil War had a profound effect on American journalism. Large newspapers hired war correspondents to cover the battlefields, with more freedom than correspondents today enjoy. These reporters used the new telegraph and expanding railways to move news reports faster to their newspapers. The cost of sending telegraphs helped create a new concise or "tight" style of writing which became the standard for journalism through the next century.
The ever-growing demand for urban newspapers to provide more news led to the organization of the first of the wire services, a cooperative between six large New York City-based newspapers led by David Hale, the publisher of the Journal of Commerce, and James Gordon Bennett, to provide coverage of Europe for all of the papers together. What became the Associated Press received the first cable transmission ever of European news through the trans-Atlantic cable in 1858.


New forms of journalism

The New York dailies continued to redefine journalism. James Bennett's Herald, for example, didn't just write about the disappearance of David Livingstone in Africa; they sent Henry Stanley to find him, which he did, in Uganda. The success of Stanley's stories prompted Bennett to hire more of what would turn out to be investigative journalists. He also was the first American publisher to bring an American newspaper to Europe by founding the Paris Herald, which was the precursor of the International Herald Tribune.
Charles Anderson Dana of the New York Sun developed the idea of the human interest story and a better definition of news value, including uniqueness of a story.

Era of Hearst and Pulitzer

William Randolph Hearst and Joseph Pulitzer both owned newspaper chains in the American West, and both established papers in New York City: Hearst's New York Journal in 1883 and Pulitzer's New York World in 1896. Their stated missions to defend the public interest, their circulation wars and their embrace of sensational reporting, which spread to many other newspapers, led to the coinage of the phrase "yellow journalism." While the public may have benefitted from the beginnings of "muckraking" journalism, their often excessive coverage of juicy stories with sensational reporting turned many readers against them.
Muckraking journalism continued into the 20th century, led by well-known investigative journalists Lincoln Steffens, Ida Tarbell and Upton Sinclair. Their work exposed the dismal conditions of the Chicago slums and meatpacking industry, the monopolistic practices of the Standard Oil Co. and more.

Muckraking publications

Smaller newspapers and magazines engaged in more investigative reporting than the larger dailies, and took greater risks. This gave rise, over time, to an alternative press movement, which today is typified by alternative weekly newspapers like The Village Voice in New York City and The Phoenix in Boston, as well as political magazines like Mother Jones and The Nation.

Rise of the African-American press

The rampant and flagrant segregation of and discrimination against African-Americans did not prevent them from founding their own daily and weekly newspapers, especially in urban areas. These newspapers and other publications flourished because of the loyalty their readers had to them. The first black newspaper was called Freedom's Journal, and it was first published on March 16, 1827 by John B. Russworn and Samuel Cornish.

Foreign-language newspapers

As immigration rose dramatically during the last half of the 19th century, many immigrants published newspapers in their native languages to cater to their fellow expatriates. One good example is the large number of newspapers published in Yiddish for the thousands of Jews who left Eastern Europe.

Birth of broadcasting in the 20th century

Guglielmo Marconi and colleagues in 1901 used a wireless radio transmitter to send a signal from the United States to Europe. By 1907, his invention was in wide use for transatlantic communications.


Impact of the internet

The rapidly growing impact of the Internet, especially after 2000, brought "free" news and classified advertising to audiences that no longer cared for paid subscriptions. The Internet undercut the business model of many daily newspapers. Bankruptcy loomed across the U.S. and did hit such major papers as the Rocky Mountain news (Denver), the Chicago Tribune and the Los Angeles Times, among many others. Chapman and Nuttall find that proposed solutions, such as multiplatforms, paywalls, PR-dominated news gathering, and shrinking staffs have not resolved the challenge. The result, they argue, is that journalism today is characterized by four themes: personalization, globalization, localization, and pauperization.[3]

Source :  
http://en.wikipedia.org/wiki/History_of_journalism

YUDA PRIA AMBADA
18610702
3SA02

Rabu, 01 Agustus 2012

Mimpi !




Gw ga akan berhenti berjuang sebelum gw dapetin mimpi itu, mimpi jadi musisi yang sukses.
dan punya band yang sukses. yap, itulah impian terbesar gw di hidup ini, gw slalu pingin berkarya,
dan karya gw bisa di terima masyarakat. lewat musik tentunya. kalo bicara tentang musik sih gw slalu antusias ngadepinya. gw slalu punya rencana-rencana biar mimpi gw kesampean, tapi sampe sekarang masih belum ada titik terang.
ya gw ga boleh putus asa, gw harus tetep berjuang, dan gw punya keyakinan yang sangat besar suatu saat
nanti gw bakal jadi apa yang gw impikan, ga mudah emang, pasti banyak rintangan, dan mungkin masa sekarang ini
adalah salah satu rintangan yang sedang gw hadepin, hmm ya gw sebenernya dulu ga kepikiran pengen jadi musisi
tapi semenjak SMA gw sangat terobsesi, berawal dari tugas kelompok kesenian di mana ada tugas kelompok harus menyanyikan
2 lagu, 1 lagu daerah yang 1 lagi lagu bebas. dan gw kebagian kelompok yang semua anggotanya ga bisa main musik.
nah dari situ gw secara terpaksa harus belajar musik, yaudah deh gw belajar gitar, diajarin sama om gw.
awalnya ya ga begitu antusias tapi karena terpaksa karena nilai yaudah gw belajar terus, akhirnya dalam waktu 2 minggu gw
bisa mainin beberapa chord. dan juga pada akhirnya tugas gw pun beres, di mana kalo ga salah gw dan kelompok gw
bawain lagu manuk dadali, dan satu lagu lagi itu lagunya maroon 5 - she will be loved.
dan nilainya juga lumayan kelompok kita dapet skor 80.
disitu gw ga keliatan kaya yang baru bisa amen musik karena semuanya berjalan lancar, alhamdulilah.
nah dari situ lah gw bisa main gitar, telat bgt sih buat seorang cowok, gw baru bisa amen gitar tuh pas kelas 2 SMA.
tapi gw ga hiraukan itu, karena ada kata bijak yang mengatakan "ga ada kata terlambat buat belajar" hehe.
dan makin hari gw ngerasa makin klop dan jatuh cinta aja sama yang namanya gitar ini, gw dulu belum punya gitar sendiri,
gw slalu pinjem sama sepupu gw aldo, setelah gw ngarasa cukup lancar mainin chord2 standar, gw iseng2 ngajak latian band
ke temen2 sekolah gw, ya buat seru2an aja sih, yaudah deh gw latian berlima
yaitu yuda (guitar-vocal) musdeck (drum), asep (guitar), ipul (vocal) , dan rully (bass)
gw inget bgt lagu2 pertama yang kita bawain tuh lagu ello - masih ada, andra - musnah, dan beberapa lagu ungu.
dan lagu barat pertama yang gw bawain tuh welcome to my life nya simple plan.
masih kacau bgt maenya haha, pokoknya emang buat seru-seruan.
band gw ini di namain "Gombloh Band" , asal bgt sih ini namanya, di ambil dari nama panggilan gw di sekolah yaitu "gombloh"
nah setelah beberapa kali latian gw dan musdeck pengen nyoba seriusin.
dan gw pun bikin beberapa lagu, yang judulnya "ku inginkanmu", "best friend", "happy date" yang sempet gw recording secara live.
dan hasilnya kacau bgt haha, tapi gw dan musdeck ngearasa ada yang beda sama lagu "ku inginkanmu" walaupun hasil recordingnya jelek.
kita berdua yakin bgt ini lagu cocok buat pasar industri indonesia, ya emang di denger2 enak juga sih ini lagu haha.
nah dari situ gw dan musdeck slalu pengen bikin serius ini band, dan pengen bgt manggung,
tapi 3 personil lainya asep ipul dan rully.
ga tertarik, mungkin karena hasil recordingnya yang sangat kacau itu.
yaudah lah band ini ga pernah kesampean manggung sampe akhirnya
bubar setelah kita semua lulus SMA, tapi gw dan musdeck sendiri pernah 1 kali manggung bawa nama sekolah di lomba lasastra SAMN 5 Bogor.
band gw ini beranggotakan 6 orang, bestari (voc 1) yusuf (voc 2) faizan (guitar 1) musdek (guitar 2) yuda (bass) rizky (percussion)
tim ini tuh tim B nya SMA BBS, dan ada 1 tim lagi yaitu tim A yang emang udah pada hebat dan jago dan akhirnya mereka juara 2 di kompetisi itu.
nah setelah lulus SMA gw dan musdeck msh punya tekad yang kuat buat bikin band yang sukses.
dan pada 25 maret 2011 terbentuklah "Bubble Gum" band yang bergenre pop-punk yang beranggotakan yuda (guitar) musdeck (drum) ade (vocal) dan aldo (bass).
gw ngajak gabung ade, yaitu temen sekelas gw di kampus. yang emang gw akuin dia punya suara yang lumayan bagus tinggal di latih lagi juga udah keren.
dan 1 personil lagi yaitu aldo itu adalah sepupu gw yang masih SMP kelas 1. walaupun masih bocah dia punya bakat yang bagus soal musik
karena bokapnya emang musisi pemain keyboard yang beberapa kali muncul di TVRI.
dan band ini pun udah beberapa kali manggung dan punya 5 lagu yang udah di recording yang semuanya di record di Guberztag record
lagu-lagunya itu : 1. pesta 2. sahabat 3. anthem 4. malam ini 5.hari ini. hasilnya lumayan bagus
walaupun masih kurang rapih, dan gw cukup puas. di tengah perjalanan band ini ganti nama dari bubble gum jadi jensiv jaret.
gw mutusdin ganti nama karena ternyata setelah di search via google udah banyak yang pake nama bubbgle gum.
yaudah gw ganti aja jadi jensiv jaret yang artinya sama dengan bubble gum yaitu permen karet, jensiv jaret sendiri berasal dari bahasa israel.
sempet juga lagu sahabat ikut kompilasi album bareng band2 indie.
tapi makin hari band ini makin ga jelas mau di bawa kemana semenjak si aldo mutusin keluar dari band.
gw sendiri masih sangat berharap banyak sama band ini, tapi banyak bgt kendala yang gw hadepin.
dimana musdeck yang susah bgt di ajak latian dan manggung karena kerjaanya, dia ga bisa bgt bagi waktu.
juga ade yang sekarang udah jarang masuk kuliah dan beberapa kali ikut test polisi,
dan dia emang keliatan lebih milih jadi polisi daripada ngelanjutin band ini.
yaudah sampe sekarang pun band ini masih belum tau kejelasanya gimana,
mungkin gw mau bubarin aja karena gw rasa udah ga ada komitmen dan tekad yang bagus lagi dari personil.
karena setelah gw pikir komitmen dan visi misi harus bener2 nyatu di dalam suatu band ini.
dan di band ini gw ga nemuin itu semua, dan sekarang gw ga punya kesibukan apa2 di musik.
kerasa hampa bgt hidup gw tanpa kegiatan musik, pengen rasanya bikin band lagi tapi gw bingung mau cari dimana.
dan sampai akhirnya temen sekelas gw dylan ngajak bikin band yang bener-bener serius buat masuk indusrti musik,
ya gw rada kaget aja dia ngajak gw, yang gw tau dia jg emang hobi musik kaya gw tapi kita beda aliran
di mana gw lebih ke pop-punk dan aliran dia metal screamo. tapi karena kita punya 1 tujuan dan 1 mimpi jadi musisi
yaudah kita coba aja bikin band baru, dan gw ngajak temen gw yaitu reza. gw sama reza sendiri baru kenal,
di kenalin sama jack temen sekelas gw, ya jack bilang sih si reza punya keinginan yang kuat juga jadi musisi kaya gw dan dylan.
dan sekarang kita bertiga pun coba bikin band baru, kita masih cari 1-2 personil tambahan.
dan rencanaya band ini mau bergenrekan alternative, dan gw udah punya rencana-rencana buat band ini.
ya gw sih berharap band ini yang bisa bikin mimpi gw jadi kenyataan, dan sama yang band satu ini gw ngerasa yakin aja.
karena dari segala aspek, dari mulai komitmen, visi misi, dan modal(uang) gw rasa akan sangat jauh lebih baik dari 2 band gw sebelumnya.
yang di mana gw rasa gw ngerasa "sendirian" ya gw ngerasa ngerjain apa2 sendiri, cuma gw yang punya semangat tinggi. yabg lainya masih setengah-setengah.
band ini belum punya nama, mungkin dalam beberapa waktu ke depan band ini akan debut. gw sih targetin september udah bisa debut manggung.
ya semoga aja dengan band yang ini gw akan sukses amiiiinnnn....

Senin, 23 Juli 2012

Boys Like Girls - Be Your Everything

Four letter word
But I dont have the guts to say it
Smile til it hurts
Lets not make it complicated
Weve got a story
But Im about to change the ending
Youre perfect for me
Youre more than just a friend so we can just stop pretending now
Gotta let you know somehow
Chorus:
Ill be your shelter
Ill be your storm
Ill make you shiver
Ill keep you warm
Whatever weather
Well baby Im yours
Ill be your forever, Be your fling
Baby I will be your everything

Verse 2:
We used to say
That we would always stay together
But whos to say
We could never last forever
Girl, got a question
Could you see yourself with somebody else?
Cause Im on a mission
I dont wanna share I want you all to myself right now
I just wanna scream it out

Chorus:

Ill be your shelter
Ill be your storm
Ill make you shiver
Ill keep you warm
Whatever weather
Well baby Im yours
Ill be your forever, Be your fling
Baby I will be your everything

Bridge:
No matter what you do
Ill be there for you
Every time you close your eyes
I will be by your side
Want you to wear my ring
Wont you tell me Im your everything

Chorus:
Ill be your shelter
Ill be your storm
Ill make you shiver
Ill keep you warm
Whatever weather
Well baby Im yours
Ill be your forever, Be your fling

Baby I will be your everything

Jumat, 16 Maret 2012

My Bioghraphy

Lahir di Bogor pada tanggal 1 oktober 1992, Yuda Pria Ambada adalah nama yang di berikan kepada saya oleh bapak saya. saya biasa di panggil "Nda" di kalangan keluarga, yang saya tahu arti dari nama itu adalah Perang Lelaki yang pemberani, bapak saya pernah bercerita bahwa nama itu di berikan karena pada saat saya lahir,
di waktu yang bersamaan pula di siarkan film perjuangan sejarah yaitu "G 30 S PKI", dan di tambah juga bapak saya yang memang seorang militer, jadi nama saya ini kental dengan nama militer atau perang. Ibu saya adalah Pegawai Negri, dan saya lahir di keluarga yang sederhana. kami hidup bahagia, tidak pernah ada konflik besar di keluarga kami, dan saya punya 2 adik yang pertama adalah Sindia Sara Pertiwi dan yang ke dua adalah Yugo Ario Seto, Tapi sekarang Sindia sudah meninggal dunia, dia meninggal pada saat baru berusia 47 hari karena suatu penyakit, saya sangat sedih saat itu, karena saya sangat sayang sekali kepada dia apalagi dia masih bayi, sungguh tidak tega saya melihat adik bayi yang masih lucu terbaring kaku tidak bernyawa, nenek saya pernah bercerita saat sindia meninggal, saya pernah berkata sambil menangis : "kenapa tidak saya saja yang meninggal? kasihan adik saya masih bayi" tapi saya tidak ingat dengan perkataan saya itu, saya lupa. dan adik saya yang kedua Yugo Ario Seto sekarang masih duduk di kelas 4 sekolah dasar.

Di masa kecil saya, saya bisa di bilang anak yang cengeng, mudah sekali menangis. dan dari cerita yang pernah saya dengar bahwa saat bayi saya pernah beberapa kali kritis hanya karena terjatuh atau terpentok suatu benda, kondisi fisik saya saat kecil sangat lemah, dan di masa kecil saya, saya mempunyai dua sahabat sejati yang selalu bermain bersama, yaitu Redhi biasa di panggil "Ndi" dan juga Ferry biasa di panggil "Ndu", dan kita di juluki trio "Nda, Ndi, Ndu" oleh lingkungan setempat, mungkin karena sangat akrabnya kita bertiga, dan juga nama panggilan dari ketiganya yang hampir serupa maka julukan itu pun melekat pada kami bertiga, bahkan sempat suatu hari kami punya 3 ekor burung yang di beri nama "Oji, Osi, Oni", tapi sekarang kami bertiga sudah tidak pernah kumpul lagi semenjak Lulus SD, karena kesibukan masing-masing mungkin hanya setahun sekali kami bertemu. masa kecil saya sangat mengidolakan masked rider atau power ranger, bahkan saya sangat terobsesi menjadi superhero, saya sering memakai topeng superhero, memakai sayap dengan sarung, jacket, dan sepatu bergaya seakan-akan saya superhero yang akan membasmi kejahatan di dunia ini. hahahahaha, juga saya memiliki hobi menggambar dari umur 1 tahun, asalkan ada spidol atau pensil di tambah dengan kertas maka di pastikan saya akan menggambar.

SDN Balumbang Jaya 2 adalah tempat di mana saya pertama kali menuntut ilmu, di sana saya banyak bertemu teman-teman yang sangat peduli ke saya, dan saya merasa di perlakukan istimewa di sana, prestasi saya di sana lumayan baik hampir tiap semester masuk 5 besar di kelas, beberapa kali saya mengikuti lomba menggambar mewakili SD ini, dan beberapa kali menjadi juara. tapi saya hanya bertahan 4 setengah tahun di sana, saya pindah sekolah saat kelas 4 ke SDN Balumbang Jaya 3 yang lokasi sekolahnya lebih dekat dengan rumah saya, tidak lama sebelum saya pindah sekolah, saya di sunat. saya di sunat di salah satu klinik di bogor, saya sangat sulit apabila di suruh oleh orang tua saya untuk segera di sunat, karena saya yang terlalu ketakutan. tapi karena orang tua saya berjanji akan membelikan saya playstastion yang saat itu yang memang sangat saya idamkan, maka saya mau di sunat. setelah kepindahan saya ke SDN Balumbang Jaya 3, dalam proses adaptasi saya sangat di bantu oleh Ndu, sahabat saya. di sana saya merasa tertekan dengan beberapa teman dan seorang guru, dan sempat beberapa kali saya malas untuk masuk sekolah, tapi lambat laun saya dapat mengatasi itu semua dan saya meraih kelulusan saya di SDN balumbang jaya 3.

SMP Negeri 1 Dramaga menjadi persinggahan selanjutnya, di sana saya kembali bertemu beberapa teman lama saya yang berasal dari SDN balumbang Jaya 2, tidak ada catatan menarik di saat itu, berjalan sangat datar, dan saya merasa masa SMP lah masa yang paling tidak berarti dalam hidup saya, setelah lulus dari SMP Negeri 1 Dramaga saya memutuskan untuk masuk SMA Bina Bangsa Sejahtera salah satu SMA favorit di kota bogor, pada awalnya di kelas 1 saya merasa tidak begitu bahagia, namun setelah kelas 2 saya merasa sangat bahagia berada di lingkungan ini, saya bertemu teman-teman yang sangat lucu dan seru di sana, memang benar kata orang jika masa SMA itu adalah masa yang paling indah, pada saat penjurusan saya memutuskan masuk IPS, padahal saya bisa di terima di IPA, tapi saya yakin untuk masuk IPS, di kelas XI IPS 3 lah saya bertemu dengan "keluarga baru" saya, di mana di sana saya merasa sangat bahagia dan nyaman, semua teman sangat bersahabat satu sama lain, kekompakan kelas ini memang tidak di ragukan lagi, kami sekelas sering membuat acara bersama, hang out bersama. banyak kenangan yang sangat berharga, seperti saat perjalanan ke yogyakarta yang di habiskan dengan penuh tawa, dan juga saya pernah mewakili sekolah di lomba musikalisasi puisi lasastra di SMA Negeri 5 bogor, di sana juga saya pertama kali membuat sebuah Band yang bernama Gombloh, di SMA saya juga mempunyai geng yang berjumlah 18 orang laki-laki yang bernamakan Sinting FC atau SFC, geng ini sering bertanding futsal setiap minggu, setelah 3 tahun yang sangat penuh dengan cerita akhirnya saya harus meninggalkan sekolah yang sangat saya cinta ini. berat rasanya berpisah dengan teman-teman, dan saya pun beberapa kali membuat video slide show foto yang berhasil di abadikan saat SMA, sebagai kenang-kenangan untuk teman-teman.
   
Setelah lulus dari SMA, saya sempat merasa bingung harus melanjutkan kemana, karena saya tidak di izinkan masuk ke universitas yang di inginkan saya yaitu institut kesenian jakarta, saya merasa jiwa seni saya harus lebih di kembangkan lagi, dan saya sangat bercita-cita menjadi musisi, tapi apa boleh buat saya harus menuruti apa yang di inginkan orang tua saya, saya pernah mencoba masuk ke D3 Institut Pertanian Bogor tapi saya gagal lolos, kemudian saya memutuskan untuk masuk gunadarma jurusan sastra inggris yang menurut saya cocok dengan pribadi saya yang menyukai seni atau sastra dan di tambah lagi dengan bahasa inggris yang memang menjadi salah satu pelajaran favorit saya, di sana saya merasa menjadi pribadi yang lebih berkembang dari cara pandang pemikiran, tapi saya merasa kurang begitu akrab dengan teman di universitas gunadarma di bandingkan dengan teman SMA saya yang memang sudah saya anggap sebagai keluarga saya sendiri, dan juga jarak kampus yang jauh dari rumah menjadi salah satu problem saya di sana, karena saya tidak mendapatkan izin untuk kos, tapi mulai semseter 4 ini saya baru mendapatkan izin untuk kos, dan saya pun kos di belakang mesjid E.

Bakat seni yang saya miliki memang sudah ada sejak kecil, sejak kecil saya sudah hobi menggambar dan memenangkan beberapa kali juara gambar, namun karena kurang di asahnya bakat yang saya miliku itu, maka bakat gambar saya tidak berkembang, tapi sejak SMA bakat seni saya beralih dari menggambar menjadi bermusik, saya sangat menyukai musik apalagi sejak saya pertama kali belajar gitar saat kelas 1 SMA, dan paman saya mengenalkan saya band alternative dari luar negri seperti my chemical romance, good charlotte, muse dll. dan saya langsung menyukai lagu mereka, semenjak itu lah saya banyak mencari referensi bermusik saya dengan mencari chord guitar, video, dan lagu dari band luar negri, dan saya banyak menemukan band yang keren, seperti paramore, simple plan, blink 182 dll. dan akhirnya saya sangat menyukai genre musik pop punk yang menurut saya keren, dan saya pun bermimpi mempunyai band yang sukses di indonesia, dan simple plan menjadi influence terbesar saya saat ini, dan banyak lagu yang saya ciptakan terinspirasi dari kehidupan pribadi saya, saat SMA saya sempat memiliki band yang bernama gombloh , tapi band ini hanya untuk mencari kesenganan saja, tidak untuk serius, dan saya mulai serius dengan band saya yang sekarang yaitu jensiv jaret, band ini sudah beberapa kali manggung di festival musik lokal, dan sudah merekam 5 lagu. band ini bergenre pop punk, juga saya sudah 2 kali menonton langsung konser band dunia yang di selenggarakan di jakarta yaitu konser simple plan di tahun 2012 dan paramoredi tahun 2011, dan rencana saya selanjutnya adalah memajukan band ini, dan mencoba untuk mengirimkan lagu rekaman kami ke beberapa label. semoga mimpi saya dapat terwujud menjadi musisi di indonesia, amin !!

Sabtu, 10 Maret 2012

KEIDEALISAN


KEIDEALISAN!
Yang saya tahu tentang idealis adalah di mana seseorang hidup tanpa terlalu bergantung atau terpengaruh pada siapa pun atau mempunyai caranya sendiri dalam melakukan tindakan, dan saya mengadopsi cara hidup seperti ini. di mana saya tidak terlalu suka latah atau ikut-ikutan dengan trend yang ada di sekitar saya, di mana banyak sekali orang-orang melakukan hal itu. saya cenderung ingin melakukan tindakan lain atau membuat hal lain.
karena menurut saya bertindak latah atau ikut-ikutan adalah hal yang tidak kreatif, salah satu contohnya adalah ketika trend sepedah fixie  atau blackberry atau trend yang sekarang terjadi di dunia musik adalah munculnya banyak Boys Band dan Girls band dan banyak juga yang lainya, di mana banyak orang ingin sekali melakukan hal itu, dan seperti terlihat mereka hanya tidak ingin di bilang tidak ketinggalan zaman, dan ingin di bilang anak gaul.
ya memang hal itu sah-sah saja mereka lakukan, tapi saya bukan tipe orang seperti itu, saya hanya menyukai hal-hal yang benar-benar saya sukai, sekali pun itu tidak terdengar familiar dan menjadi trend, karena bagi saya hidup dengan cara sendiri akan menampilkan kesan yang beda dan unik daripada menjadi mayoritas dan terlihat biasa, tetapi sekali lagi saya tidak menganjurkan untuk seperti saya karena setiap orang punya hak nya masing-masing untuk bertindak.
 dan saya sangat tertarik mengkritisi dengan trend yang terjadi sekarang dengan munculnya banyak sekali Boys Band dan Girls Band di Indonesia, mungkin saja setiap minggu atau bahkan setiap hari muncul Boys Band dan Girls Band baru, di mana mereka berkiblat kepada musik K-POP dari Korea yang memang sedang sangat di gandrungi kaula muda, bukan hanya di Korea tapi juga di sluruh dunia,
hal ini menjadikan banyak sekali Boys Band dan Girls Band indonesia yang sangat meniru Bintang Top dari Korea, mulai dari gaya rambut, pakaian, bahkan musik. dan pada akhirnya memang hal ini sangat booming di indonesia dengan smash sebagai pioneer dari boys band dan juga seven icon sabagai pioneer dari girls band yang ada sekarang ini,







di mana mereka dengan mudahnya meraih popularitas tinggi dalam waktu yang cukup singkat dengan hanya mengekuarka 1 single saja, karena kesuksekan mereka lah muncul banyak sekali Boys Band dan Girls Band baru, hal ini memang cukup positive di mana menurut saya memperbaiki selera pasar musik di Indonesia yang sebelumnya dalam trend Band yang bergenre melayu, tetapi yang sangat di sayangkan oleh saya adalah mereka terkesan memaksakan diri, dan hanya ingin ikut-ikutan trend dan ikut-ikutan tenar, karena dari segi kualitas vocal mereka sangat tidak layak masuk industri musik indonesia, di mana yang saya lihat setiap mereka tampil live di acara musik di televisi mereka slalu tampil lipsing, karena saya tahu apabila mereka tampil secara live, suara mereka akan sangat tidak enak di dengar, dan juga mereka terkesan hanya bermodalkan tampang ganteng, cantik, putih, oriental. tanpa memikirkan kualitas yang ada di dalam diri mereka, dan ini sangat-sangat membuat kualitas tidak lagi menjadi hal yang utama, karena sekarang adalah kuantitas yang menjadi hal utama.
hal ini sangat memprihatinkan bagi saya, membuat industri musik indonesia mundur satu langkah, di mana yang saya inginkan adalah kemajuan dari industri musik indonesia yang seharusnya lebih selektif lagi dalam menerima sebuah artist, karena hal yang paling utama bagi saya adalah kulaitas dari artist nya itu sendiri, anda boleh saja tidak setuju dengan pendapat pribadi saya ini, dan saya tidak memaksakan anda untuk satu pendapat dengan saya. karena sekai lagi setiap orang punya cara berpikir yang berbeda.

Kehidupan Baru

hmm gw mw cerita nih tentang kehidupan baru gua.
di mana sekarang gw ngekos, alasan gw ngekos bukan pengen macem2 atau bebas, gw cuma pengen lebih ngeringanin beban yang di pikul badan gw, ya di pikir2 sih kalo setiap hari pulang-pergi depok bogor itu cape bgt, dan gw ngerasainya jg begitu walaupun gw udah biasa dengan keadaan itu.
dan juga alasan lainya itu jadwal kuliah yang makin padet dan slalu dapet jadwal pagi. ga kebayang kalo tiap hari berangkat pagi dari bogor yang mengharuskan gw bangun lebih pagi dan bergulat dengan kemacetan kota bogor yaitu di daerah yasmin sampai under pass jalan baru yang macetnya bikin stress, kalo macet tuh emang bikin emosi dan stress bgt and juga buang2 waktu. kalo gw pilih alternativ lain kaya naek kereta pagi ya sama aja sih bikin stress, dengan pengalaman gw yang udah sering bgt naek kereta pagi2 waktu masih semseter 1 di mana di sana gw harus berhimpit-himpitan sama penumpang lain, yang numpuknya bukan main, kadang walaupun udah penuh itu isi gerbong kereta tapi tetep aja kalo tiap pemberentian tuh penumpang dari luar di paksa masuk yang otomatis bikin isi gerbong penuh bgt. pokoknya masalah masuk pagi itu emang complex bgt, mau pake transportasi apapun ya tetep aja bikin stress.
dan akhirnya gw mikir pengen ngekos nih, tapi gw ga yakin dapet izin.
secara bonyok gw tuh lumayan protective juga ke gw, tapi setelah gw minta ga taunya gw di izinin, dan gw pun akhirnya sekarang ngekos.
gw ngekos di daerah deket kampus E, tepatnya di belakang mesjid kampus E. waktu gw pindahan gw di anter sama bokap nyokap dan juga kakek nenek gw, udah kaya ma umroh aja gw di anter rombongan, tp gapapa, gw mikir mungkin mereka tuh sayang bgt sama gw. dan yang bikin gw pengen nangis juga sih waktu gw di lepas pas mereka balik ke bogor, di situ kerasa bgt gw sedih harus ninggalin mereka, gatau kenapa hati gw kerasa berat aja tinggal jauh dari mereka, mungkin karena itu pertama kali gw alamin. dan kayanya gw juga akan ngerasain hal yang sama nanti di saat gw nikah dan hidup berdua sama istri gw kelak dan harus ninggalin mereka, dan gw mikir pantes aja ya pengantin2 itu pada nangis waktu akad nikah, di mana mereka tuh udah lepas dari orang tua, mungkin rasanya sama kaya apa yang gw rasain skrang. lanjut lagi, ternyata gw masih belum terbiasa hidup sendiri di kosan, gatau kenapa mungkin masih baru, dan harus adaptasi sama lingkungan sekitar yang masih asing bgt buat gw, dan ada 1 yang bikin kecewa itu adalah sinyal kartu axis tuh bangke bgt di sini, ampe2 cuma buat sms aja ga bisa !! di mana di situ gw mati gaya bgt, ga bisa smsan, apalagi internetan, di tambah pula gw ga bawa tivi, cd, speaker. di mana alat satu2nya hiburan gw itu ya cuma handphone dan notebook gw, gw pengen ganti kartu tapi males dan sayang bgt. soalnya gw bukan tipe orang yg sering ganti kartu, mungkin kalo ga ada perubahan ampe bulan depan bisa aja gw pindah kosan yang ada sinyal axis nya bagus. dan gw masih belum betah sama keadaan kosan gw, pikiran gw tuh pengen ke rumah terus. emang bener yah kalo ada sebuat kalimat "Home Sweet Home", emang tempat yang paling nyaman buatr kita ya rumah kita sendiri. mungkin aja nanti kalo gw masih belum nyaman juga dengan keadaan gw, dan ga ada perkembangan apa2. bisa aja gw balik lagi pulang-pergi bogor depok, entah itu naek motor atau naek kereta, masih belum kepikiran. ya mudah2an sih gw bisa betah di sini, walaupun hati gw masih berat bgt ninggalin rumah.

IMPIANKU !!

IMPIANKU!

- Musisi Sukses
- Band Sukses
- Punya Perusahaan Musik
- Punya Studio Musik
- Punya Merk Guitar
- Progress IPK
- Lulus dengan hasil memuaskan
- Pasangan yang pintar, cantik, berjilbab, kalem.
- Bertemu dengan salah satu idola saya
- Nonton Pertandingan Sepak Bola secara langsung di stadion Olimpico Roma

Sabtu, 18 Februari 2012

Pertanyaan

tulisan ini gua bikin karena emang harus gua tulis hahaha
langsung aja ya! pernah ga sih kalian bertanya?
kenapa kita hidup di dunia ini?
gw sih beberapa kali sempet kepikiran dan pertanyaan yang timbul di benak gw *cielaaaah
kaya begini:
-kenapa gw hidup di dunia ini?
-kenapa gw di lahirin jadi cowok? kenapa bukan cewek?
-kenapa gw lahir di zaman ini? kenapa ga lahir dari zaman firaun atau pra sejarah? atau mungkin di masa depan?
-kenapa gw lahir dari ibu bapak gw yang sekarang/ hidup di keluarga gw sekarang? kenapa gw ga lahir di keluarga lain.
-kenapa gw jadi warga negara indonesia? kenapa ga jadi warga negara amerika, italia atau kamerun?
-kenapa gua harus lahir dan tinggal di  bogor? kenapa ga di jayapura atau timor leste?
pertanyaan-pertanyaan kaya begitu lah yang beberapa kali hinggap di pikiran gw, ya mungkin Tuhan udah ngasih ketentuanya ke gw kaya hidup gw yang sekarang, mungkin juga ada maksud dari semuanya itu yang belum gw tahu, gw harus sukuri apa yang gw dapet, dan gw mensyukuri itu.
tapi nih ya kalo berandai-andai kalo gw lahir di zaman perang dunia 1 dan jadi warga negara belanda, mungkin gw sekarang udah mati. dan andai gw lahir di jaman Rassulullah dan jadi salah satu sahabat Rassul, mungkin gw udah di surga sekarang hehe. mungkin kalo bisa milih gw mendingan ga usah hidup aja, ya secara hidup itu ga mudah, banyak cobaan, banyak rintangan, dan hidup itu harus memilih jadi orang bener atau jadi orang berengsek. dan gw merasa hidup gw belum bener tapi hidup gw juga ga berengsek! dan konsekeuensi hidup adalah ya mati! dan setelah mati kita akan ketemu yang namanya surga dan neraka, dan kita akan masuk di salah satu tempat itu tergantung perbuatan kita di dunia, itu dia yang jadi masalah, gw ngerasa mendingan ga usah hidup kalo akhirnya nanti masuk neraka, ya sukur2 masuk surga. ya itu aja sih unek2 yang pengen gw keluarin, ga penting juga tapi pertanyaan-pertanyaan itu emang bikin penasaran apa sebenarnya alasan yang melatar belakangi itu semua.